KENDAL, Inspiratifonline — Satu dekade perjalanan Silent Candle Production dirayakan melalui pemutaran perdana film panjang pertama di Kendal, “Sandiwara Pelangi”. Bertempat di Savva Coffee and Eatery, Weleri, acara ini bukan hanya menjadi ruang pemutaran karya, tetapi juga menjadi pertemuan gagasan tentang bagaimana sebuah gerakan seni dapat bertahan, tumbuh, dan melahirkan generasi baru.
Dengan mengusung tajuk diskusi “Konsistensi dalam Berkesenian”, rangkaian acara menghadirkan percakapan mengenai proses kreatif, regenerasi, jejaring komunitas, serta bagaimana seni tetap memiliki tempat di tengah perubahan zaman.
Sebelum pemutaran film utama, acara diawali dengan pre show berupa dua film pendek, yaitu “Putih Abu dan Kabut” karya Himada Kumara serta “Rikala” karya Satrio Rifqy F. Keduanya menjadi pengantar sebelum penonton memasuki perjalanan panjang Silent Candle Production dalam menghadirkan karya film.
Himada Kumara melihat langkah Silent Candle Production melibatkan siswa-siswi SMA Negeri 1 Rowosari dalam proses produksi film sebagai upaya membuka ruang belajar bersama. Menurutnya, proses tersebut bukan hanya tentang menghasilkan karya, tetapi juga tentang memberi pengalaman dan membuka kemungkinan munculnya generasi baru dalam dunia perfilman Kendal.
“Proses kreatif seperti ini penting untuk menjadi ruang belajar. Dari sana akan muncul orang-orang baru yang menemukan jalannya masing-masing,” menjadi salah satu gagasan yang muncul dalam diskusi.
Akhmad Sofian Hadi dari Teater Atmosfer Kendal menyampaikan bahwa keberlangsungan seni tidak bisa dilepaskan dari kemampuan sebuah komunitas dalam membaca zaman, ruang, serta lingkungan sekitarnya. Baginya, seniman perlu peka terhadap isu yang hadir, cerita lokal, maupun folklore yang tumbuh di masyarakat agar karya tetap memiliki napas. Ia juga menyoroti bagaimana ruang berkesenian seharusnya tidak membatasi seseorang hanya pada satu bentuk kemampuan tertentu.
Menurutnya, bergabung dalam teater tidak selalu harus dipahami sebagai seseorang yang harus menjadi aktor atau tampil di panggung. Ruang seni semestinya membebaskan siapa saja yang datang untuk menemukan minat dan potensinya sendiri.
“Orang yang masuk teater tidak selalu harus menjadi pemain. Bisa jadi dia punya ketertarikan menulis, maka diberi ruang untuk belajar menulis. Kalau ingin belajar di tempat lain, juga seharusnya diberi kesempatan. Karena dari proses itulah seseorang menemukan passion dan berkembang,” ujarnya.
Pandangan tersebut beririsan dengan gagasan regenerasi yang dibangun Silent Candle Production. Riki Himawan, salah satu pendiri SCP, mengibaratkan komunitasnya seperti sebuah kapal yang terbuka bagi siapa saja.
“Ibarat kapal, SCP itu siapapun boleh turut serta. Terlepas ada bakat atau tidak. Yang penting mau dulu, lalu belajar bersama,” ungkapnya.
Percakapan kemudian meluas ketika Giandra Febrian dari Malang Art Movement berbagi pengalaman mengenai dinamika ekosistem seni di Malang maupun Yogyakarta. Ia melihat adanya perbedaan pola hubungan antar komunitas seni.
Menurutnya, di beberapa kota, ruang seni masih sering berjalan dalam kelompok masing-masing. Penonton seni rupa belum tentu datang ke pertunjukan musik, begitu pula sebaliknya. Hal ini menjadi tantangan untuk membangun ekosistem yang lebih saling terhubung.
Ia juga menekankan bahwa keberlanjutan seni membutuhkan orang-orang yang mau berbagi pengetahuan secara konsisten. Proses transfer ilmu, menurutnya, menjadi salah satu jalan penting untuk menjaga regenerasi.
Dalam perjalanan produksi “Sandiwara Pelangi”, Riki Himawan menyampaikan bahwa membuat film panjang bukan perkara singkat. Proses yang dimulai sejak 2023 hingga akhirnya tayang pada 2026 membutuhkan ketekunan panjang, terutama pada tahap pascaproduksi.
Bagian penyuntingan, memperbaiki adegan, menyusun ulang cerita, hingga memastikan film layak dipertanggungjawabkan kepada publik menjadi tantangan tersendiri.
Bagi Silent Candle Production, selesainya satu film bukanlah titik akhir. Sebuah karya akan menjadi catatan, bahan evaluasi, sekaligus pijakan untuk proses berikutnya.
Diskusi yang berlangsung hangat tersebut kemudian ditutup oleh Dewa dari Ngapawed dengan sebuah refleksi sederhana namun kuat:
“Konsistensi besar tidak bisa dilakukan selama konsistensi kecil tidak dilakukan.”
Kalimat itu menjadi semacam simpul dari seluruh perbincangan malam tersebut: bahwa perjalanan seni tidak selalu ditentukan oleh seberapa besar panggung yang dicapai, tetapi oleh kesediaan untuk terus hadir, belajar, dan menjaga proses.