KENDALDOYONG, inspiratifonline.com – Potensi peternakan bebek di Desa Kendaldoyong, Kecamatan Wonosalam, Kabupaten Demak, terus didorong agar memiliki nilai ekonomi yang lebih tinggi. Salah satu upaya tersebut dilakukan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) UIN Walisongo Semarang Posko 105 melalui Divisi Ekonomi Kreatif dengan menggelar praktik pembuatan telur asin bersama peternak bebek milik Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), Sabtu (1/8/2026).
Kegiatan yang dimulai sekitar pukul 11.00 WIB itu tidak hanya memberikan keterampilan teknis kepada peternak, tetapi juga mengenalkan peluang pengembangan usaha melalui pengolahan hasil peternakan. Telur bebek yang sebelumnya dipasarkan sebagai produk mentah diharapkan dapat memiliki nilai jual lebih tinggi setelah diolah menjadi telur asin.
Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa KKN terlebih dahulu memperkenalkan potensi usaha olahan telur bebek, pentingnya inovasi produk, hingga peluang pemasaran telur asin. Penyampaian materi dilakukan secara interaktif agar mudah dipahami oleh para peternak dan pengurus BUMDes.
Praktik kemudian dilanjutkan dengan memperagakan tahapan pembuatan telur asin, mulai dari memilih dan membersihkan telur bebek, menyiapkan bahan campuran berupa abu gosok, tanah merah, dan garam, hingga proses pelapisan serta pemeraman telur.
Para peternak dan pengurus BUMDes juga terlibat langsung dalam praktik tersebut. Mereka tidak hanya mengikuti setiap tahapan, tetapi turut berdiskusi mengenai proses produksi, kendala peternakan, hingga kemungkinan pemasaran produk olahan telur bebek.
“Kami sangat mengapresiasi kepedulian serta inisiatif adik-adik mahasiswa KKN UIN Walisongo yang telah hadir dan mendampingi peternak bebek BUMDes di Desa Kendaldoyong secara langsung,” ujar Khoirun.
Selain teknik produksi, mahasiswa KKN turut memberikan pemahaman mengenai kebersihan, kualitas produk, serta pengemasan. Aspek tersebut dinilai penting agar telur asin yang dihasilkan tidak hanya memiliki kualitas yang baik, tetapi juga lebih menarik ketika dipasarkan kepada konsumen.
Antusiasme juga terlihat dari keterlibatan peternak selama kegiatan berlangsung. Sejumlah pertanyaan dan diskusi muncul, terutama berkaitan dengan pengelolaan usaha peternakan serta bagaimana hasil produksi dapat dikembangkan menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi.
“Kami tegaskan bahwa keberhasilan unit usaha BUMDes ini adalah milik bersama, di mana hasil keuntungan dari pengembangan ternak bebek ini nantinya akan dikembalikan lagi kepada masyarakat Desa Kendaldoyong, khususnya bagi warga yang membutuhkan pendampingan atau bantuan ekonomi,” ujar Masruki.
Sementara itu, Koordinator Divisi Ekonomi Kreatif KKN UIN Walisongo Posko 105, Fahma, berharap keterampilan yang telah diberikan dapat diterapkan secara mandiri oleh peternak dan pengurus BUMDes. Menurutnya, praktik tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan pelatihan, tetapi dapat dikembangkan menjadi kegiatan usaha yang berkelanjutan.
“Atas nama Divisi Ekonomi Kreatif KKN UIN Walisongo Posko 105, saya mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada pengurus BUMDes dan para peternak bebek Desa Kendaldoyong atas antusiasme serta dukungan yang luar biasa. Harapan besar kami, keterampilan praktik pembuatan telur asin ini dapat terus dijalankan secara mandiri dan berkelanjutan, sehingga mampu memberikan manfaat nyata serta meningkatkan perekonomian masyarakat desa,” ujar Fahma.
Kolaborasi tersebut menjadi salah satu bentuk pemanfaatan potensi lokal melalui peningkatan keterampilan masyarakat. Dengan pengolahan telur bebek menjadi produk bernilai tambah, BUMDes Kendaldoyong diharapkan dapat memiliki alternatif pengembangan unit usaha sekaligus membuka peluang ekonomi bagi masyarakat desa.