KENDAL, inspiratifonline.com – Lingkungan sekolah yang nyaman tidak hanya dibentuk melalui proses belajar di dalam kelas, tetapi juga dari cara siswa memperlakukan satu sama lain. Kesadaran untuk menghormati teman dan berani menolak perundungan perlu ditanamkan sejak usia dini agar sekolah menjadi ruang yang aman bagi setiap anak.

Pesan tersebut dibawa mahasiswa KKN MIT Posko 111 UIN Walisongo Semarang melalui edukasi Stop Bullying di Desa Botorejo. Sosialisasi menyasar siswa SDN 1 Botorejo, SDN 2 Botorejo, dan TK Panti Siwi Botorejo pada 3, 5, dan 7 Agustus 2026.

Para siswa diajak mengenali berbagai bentuk perundungan yang dapat terjadi di lingkungan sekolah, mulai dari tindakan fisik, ucapan yang menyakiti, hingga perilaku mengucilkan teman. Mereka juga mendapatkan pemahaman mengenai dampak bullying serta langkah yang dapat dilakukan ketika menjadi korban maupun menyaksikan kejadian tersebut.

Agar tidak terasa seperti pembelajaran satu arah, mahasiswa mengemas penyampaian materi melalui lagu, kuis, dan permainan bersama. Siswa diberi kesempatan menjawab pertanyaan sekaligus berdiskusi mengenai contoh perilaku yang mencerminkan sikap saling menghargai.

Di SDN 2 Botorejo, pesan mengenai kepedulian juga diperluas melalui penanaman pohon bersama. Anak-anak diajak melihat bahwa menjaga lingkungan dan menjaga hubungan dengan sesama sama-sama membutuhkan kepedulian serta tanggung jawab.

Kepala SDN 1 Botorejo, Endang Poncorini, menilai edukasi mengenai perundungan penting diberikan kepada siswa agar mereka memiliki pemahaman dan sikap yang tepat dalam berinteraksi.

“Anak-anak perlu memahami bahwa perundungan bukan sesuatu yang boleh dianggap sebagai candaan. Kami berharap apa yang mereka dapatkan dari sosialisasi ini bisa diterapkan dalam keseharian di sekolah maupun di luar sekolah,” ujar Endang.

Mahasiswa KKN MIT Posko 111 UIN Walisongo menilai pencegahan bullying perlu melibatkan siswa, guru, keluarga, dan lingkungan sekitar. Anak juga perlu merasa aman untuk bercerita ketika mengalami atau melihat tindakan perundungan.

“Kami ingin anak-anak memahami bahwa setiap orang berhak diperlakukan dengan baik. Kalau melihat perundungan, jangan ikut melakukan atau hanya diam, tetapi berani mencari bantuan kepada guru atau orang dewasa,” ujar perwakilan mahasiswa KKN.

Edukasi tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai pengetahuan sesaat, tetapi menjadi kebiasaan dalam keseharian siswa. “Sekolah yang ramah anak dimulai dari hal sederhana, yaitu saling menghormati, tidak menyakiti, dan berani peduli kepada teman,” pungkasnya.

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *