KENDAL, inspiratifonline.com — Ribuan masyarakat di Indonesia masih menghadapi gangguan penglihatan akibat katarak yang belum tertangani dengan baik.
Selain faktor usia, keterbatasan biaya dan akses layanan kesehatan membuat banyak penderita memilih menunda operasi hingga kondisi penglihatan semakin menurun.
Kondisi tersebut mendorong PT Erela berkolaborasi dengan RS PKU Aisyiyah Kendal dan Persatuan Dokter Mata Indonesia (PERDAMI) Jawa Tengah menggelar bakti sosial operasi katarak gratis di Poliklinik RS PKU Aisyiyah Kendal, Sabtu (23/5/2026).
Puluhan warga dari berbagai daerah mengikuti program tersebut setelah lebih dulu menjalani pemeriksaan kesehatan mata oleh tim dokter spesialis.
Direktur RS PKU Aisyiyah Kendal, dr. Hanif Furkon, M.H., mengatakan seluruh pasien harus melewati tahapan screening sebelum dinyatakan layak menjalani operasi.
“Dari screening itu terkumpul sekitar 65 pasien dan yang memenuhi syarat untuk dilakukan operasi sebanyak 25 pasien,” ujarnya.
Menurutnya, pasien yang telah menjalani tindakan operasi diperbolehkan pulang dan kembali menjalani pemeriksaan lanjutan sesuai jadwal kontrol dokter spesialis mata.
“Nanti pasien akan kontrol kembali untuk memastikan kondisi setelah operasi berjalan baik dan jadwal kontrol berikutnya ditentukan saat pemeriksaan,” katanya.
Hanif menilai kegiatan tersebut menjadi salah satu bentuk kepedulian bersama dalam membantu masyarakat yang mengalami gangguan penglihatan akibat katarak.
“Harapannya masyarakat yang sebelumnya kesulitan melihat bisa kembali beraktivitas dengan lebih baik setelah menjalani operasi,” ungkapnya.
Selain menjadi kegiatan sosial, RS PKU Aisyiyah Kendal juga mulai memperkuat layanan kesehatan mata sebagai salah satu pelayanan unggulan rumah sakit.
Sementara itu, perwakilan PERDAMI Jawa Tengah, dr. Kharisma Gyna, Sp.M., menyebut katarak masih menjadi penyebab kebutaan yang cukup tinggi di Indonesia meski sebenarnya dapat ditangani melalui operasi.
“Memang katarak menyebabkan kebutaan, tetapi termasuk yang bisa dicegah dan diobati,” ujarnya.
Ia menjelaskan keterlambatan penanganan biasanya dipengaruhi kurangnya edukasi masyarakat hingga terbatasnya akses layanan kesehatan, terutama bagi warga kurang mampu.
“Kadang pasien sudah tahu mengalami katarak, tetapi belum memiliki akses yang cukup untuk mendapatkan tindakan operasi,” jelasnya.
Karena itu, PERDAMI terus menggencarkan kegiatan sosial kesehatan mata melalui kerja sama dengan berbagai rumah sakit dan perusahaan agar masyarakat tetap memperoleh layanan operasi secara gratis.
“Kami berharap angka kebutaan akibat katarak bisa terus ditekan dan kualitas hidup masyarakat semakin meningkat,” katanya.
Di sisi lain, Product Manager PT Erela, dr. Andriani Yenny Larosa, mengatakan tingginya angka penderita kebutaan akibat katarak menjadi alasan perusahaan ikut aktif mendukung kegiatan sosial kesehatan mata.
“Data Kementerian Kesehatan tahun 2025 menunjukkan sekitar 600 ribu hingga 650 ribu masyarakat Indonesia mengalami kebutaan akibat katarak,” ujarnya.
Ia mengatakan keterlibatan PT Erela dalam kegiatan tersebut merupakan bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan di bidang kesehatan, khususnya membantu masyarakat yang mengalami keterbatasan biaya operasi.
“Kami ingin membantu masyarakat, terutama pasien yang tidak memiliki BPJS atau mengalami keterbatasan ekonomi untuk menjalani operasi,” katanya.
Menurutnya, program operasi katarak gratis akan terus dilanjutkan di berbagai daerah sebagai bentuk dukungan terhadap penanganan gangguan penglihatan di Indonesia.
“Harapannya semakin banyak masyarakat yang bisa mendapatkan kesempatan melihat kembali dengan lebih jelas dan menjalani hidup yang lebih baik,” pungkasnya.