KENDAL, inspiratifonline.com – Genangan air laut yang semakin sering terjadi di pesisir Kabupaten Kendal menunjukkan bahwa persoalan rob telah berkembang menjadi ancaman yang lebih luas. Wilayah yang sebelumnya hanya terdampak di kawasan pantai kini mulai merasakan perluasan genangan hingga mendekati pusat kota.
Di Kelurahan Bandengan, jarak genangan rob dengan kawasan perkotaan bahkan diperkirakan tinggal kurang dari satu kilometer.
Kondisi tersebut menandakan bahwa rob bukan lagi sekadar fenomena pasang air laut. Sejumlah faktor saling berkelindan, mulai dari perubahan iklim, penurunan muka tanah, hingga kerusakan ekosistem pesisir yang menyebabkan air laut semakin mudah masuk ke daratan dan bertahan lebih lama.
Kepala Seksi Kedaruratan BPBD Kendal, Iwan Sulistyo, mengatakan masyarakat perlu memahami bahwa rob merupakan persoalan yang dipengaruhi berbagai faktor, sehingga penyelesaiannya tidak bisa dilakukan dengan melihat satu penyebab saja.
“Kalau berbicara rob, masyarakat perlu memahami bahwa penyebabnya tidak sesederhana yang terlihat di lapangan. Ada faktor global seperti pemanasan bumi, ada penurunan muka tanah, dan ada persoalan lingkungan di wilayah pesisir yang semuanya saling berkaitan,” kata Iwan Sulistyo saat diwawancarai, Kamis (25/6/2026).
Menurutnya, salah satu ancaman yang terus berlangsung adalah fenomena penurunan muka tanah (land subsidence). Berdasarkan data BPBD, kawasan pesisir Kendal mengalami penurunan permukaan tanah sekitar dua hingga lima sentimeter setiap tahun. Meski angkanya masih lebih rendah dibanding sejumlah daerah lain di Pantai Utara Jawa, kondisi tersebut tetap berpotensi memperparah rob apabila terjadi secara terus-menerus.
Iwan juga menilai perubahan bentang alam di sepanjang pesisir utara Jawa memberikan pengaruh terhadap pola pergerakan air laut. Aktivitas pembangunan maupun reklamasi di sejumlah wilayah pantai dinilai dapat mengubah distribusi air sehingga berdampak pada daerah lain yang memiliki elevasi lebih rendah, termasuk Kendal.
Selain itu, persoalan di tingkat lokal turut memperbesar risiko rob. Muara sungai yang mengalami sedimentasi dan pendangkalan membuat aliran air menuju laut tidak lagi berjalan optimal, terutama saat pasang laut bersamaan dengan hujan deras. Akibatnya, air lebih mudah menggenang dan membutuhkan waktu lebih lama untuk surut.
Kawasan muara Bandengan dan Balok menjadi dua titik yang dinilai paling terdampak. Selain sedimentasi, aktivitas lalu lintas perahu dan keberadaan bangkai kapal di sekitar muara juga menghambat kelancaran aliran air menuju laut.
“Masalah rob ini tidak bisa diselesaikan dengan satu langkah atau satu instansi saja. Dibutuhkan penanganan menyeluruh dari hulu sampai hilir, mulai dari persoalan lingkungan, sungai, muara, hingga pengendalian dampak perubahan iklim. Kalau tidak dilakukan bersama-sama, rob akan terus bergeser dan meluas ke wilayah lain,” tegas Iwan Sulistyo.