KENDAL, inspiratifonline.com — Potensi pertanian kopi di wilayah pegunungan Kabupaten Kendal mulai mendapat perhatian serius dari berbagai kalangan. Kondisi alam yang mendukung dinilai mampu menjadi peluang besar untuk mengembangkan komoditas kopi unggulan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa di kawasan lereng Gunung Prau.
Komitmen itu diwujudkan melalui kegiatan penyerahan dan penanaman bibit kopi Arabika dalam program Wakaf Produktif yang dilaksanakan di Desa Kediten, Kecamatan Plantungan, Rabu (20/5/2026). Kegiatan tersebut merupakan kolaborasi antara Pimpinan Daerah Pemuda Muhammadiyah Kendal, Majelis Pendayagunaan Wakaf PDM Kendal, Lazismu Kendal, dan petani kopi setempat.
Selain penanaman bibit, kegiatan juga diisi pembekalan budidaya kopi oleh Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) dari BPP Kecamatan Plantungan guna meningkatkan pemahaman petani terhadap teknik pengelolaan kopi yang baik.
Sekretaris PD Pemuda Muhammadiyah Kendal, Shobaril Yuliadi, mengatakan program wakaf produktif itu menjadi bentuk kepedulian terhadap penguatan ekonomi masyarakat berbasis pertanian dan pelestarian lingkungan.
“Program wakaf produktif pohon kopi ini merupakan ikhtiar Pemuda Muhammadiyah periode ini yang memang konsen terhadap isu ekonomi, pertanian dan lingkungan. Harapannya, program ini dapat memberikan manfaat nyata bagi petani, khususnya di Desa Kediten,” ujarnya.
Ia menilai pengembangan kopi Arabika di wilayah pegunungan dapat menjadi peluang ekonomi baru bagi masyarakat apabila dikelola secara serius dan berkelanjutan.
Sementara itu, panitia kegiatan Rifqi Khoirul Anam menyebut kawasan lereng Gunung Prau memiliki karakter tanah dan iklim yang cocok untuk pengembangan kopi Arabika berkualitas.
Menurutnya, terdapat sejumlah desa yang dinilai potensial menjadi sentra kopi Arabika di Kabupaten Kendal, di antaranya Desa Blumah, Kediten, Gentinggunung, Bringinsari, dan Purwosari.
“Kami berharap Desa Kediten ke depan dapat menjadi pusat riset dan pengembangan Kopi Arabika di Kabupaten Kendal,” katanya.
Bibit yang ditanam dalam program tersebut merupakan varietas Arabika Yellow Cattura yang dikenal memiliki cita rasa dan aroma khas. Jenis kopi ini juga masih jarang dibudidayakan sehingga dinilai memiliki nilai ekonomi yang cukup tinggi bagi petani.
Melalui kegiatan tersebut, para penggerak program berharap pengembangan kopi tidak hanya menjadi kegiatan pertanian biasa, tetapi juga mampu mendorong lahirnya gerakan ekonomi masyarakat desa yang berkelanjutan dan berbasis potensi lokal.
“Harapannya gerakan ini tidak berhenti di penanaman saja, tetapi benar-benar menjadi langkah bersama untuk membangun kesejahteraan petani dan menjaga lingkungan secara berkelanjutan,” pungkasnya.