Opini, Inspiratifonline.com – Di gedung MWC NU Sukorejo, Kendal. Saya tidak datang untuk menilai siapa Gus Dur. Saya juga tidak membawa niat besar untuk memahami Indonesia. Saya hanya duduk, mendengar, dan mencatat. Sebab sering kali, kebenaran justru muncul bukan dari penjelasan, melainkan dari cara orang-orang bercerita tanpa niat menggurui.
Pada haul Gus Dur ke 16, Gus Sabrang mengawali dengan kalimat yang terdengar sederhana:
“Cara berpelukan orang beda-beda. Ketika Gus Dur guyon, begitulah cara Gus Dur memeluk umatnya.”
Saya menangkapnya bukan sebagai metafora, melainkan sebagai pengakuan. Bahwa kasih sayang tidak selalu hadir dalam bentuk yang seragam. Ada yang lewat tawa, ada yang lewat kebijakan, ada pula yang lewat diam yang panjang.
Pak Haryanto, seorang pengusaha, tidak membawa istilah besar. Ia hanya menyebut satu hal: ketulusan.
“Gus Dur tulus memperjuangkan Tionghoa tanpa pencitraan. Ketulusan itu yang menggerakkan kami untuk menghormatinya.”
Saya terdiam. Di zaman ketika kebaikan sering dipamerkan, ternyata ketulusan justru dikenali karena ia tidak merasa perlu dikenali.
Ia bercerita, bagi sebagian masyarakat Tionghoa, Gus Dur disebut Hong Tei, kaisar. Dibuatkan papan arwah dengan ornamen Masjid Agung Demak, atas rekomendasi Gus Mus. Dalam sesaji, ikan, kambing, dan ayam menggantikan babi. Tidak ada tradisi yang dibatalkan. Tidak ada iman yang dipaksa pindah rumah. Yang ada hanyalah penyesuaian, sebagaimana air menyesuaikan bentuk wadahnya tanpa kehilangan hakikatnya.
Saya tidak menyebut ini toleransi. Kata itu sudah terlalu sering dipakai sampai kelelahan. Saya lebih melihatnya sebagai rasa hormat yang tumbuh karena diberi ruang, bukan karena diwajibkan.
Kemudian suara-suara lain menyusul, pendek, nyaris seperti wirid.
Perwakilan Katolik berkata, “Terima kasih atas apa yang diwariskan.”
Perwakilan Hindu juga hanya berkata, “Terima kasih.”
Gus Bobi: “Matur suwun, Gus.”
Kang Makmun: “Nyuwun barokah.”
Tidak ada lomba pidato. Tidak ada pembuktian siapa paling berjasa. Barangkali memang begitulah rasa syukur bekerja: ia tidak berisik, tapi menetap.
Baca Juga: Mualem, “Menangis di Kursi Amanah”
Gus Sabrang menutup dengan kalimat yang terasa seperti laporan keadaan semesta:
“Gus, dunia repot. Panjenengan pun lulus. Kulo titip Indonesia, mugi anak-anak muda dikancani untuk meneruskan cita-cita panjenengan.”
Dunia memang repot. Dan orang-orang yang selesai dengan dirinya sering kali justru meninggalkan pekerjaan rumah bagi yang masih hidup.
Pak Haryanto menambahkan satu kalimat, lirih namun utuh:
“Gus Dur, ni hao. Kami baik-baik saja.”
Kalimat itu bukan basa-basi. Ia seperti pesan singkat kepada seseorang yang telah pergi jauh, bahwa benih yang ia tanam masih hidup, meski tumbuh dengan bentuk yang tidak selalu rapi.
Saya pulang tanpa kesimpulan. Sebab hidup jarang memberi kesimpulan.
Yang saya bawa hanyalah kesadaran kecil: Gus Dur tidak memeluk Indonesia dengan satu cara. Ia membiarkan setiap orang merasakan pelukan sesuai kesiapan masing-masing.
Dan mungkin, selama kita masih saling memberi ruang untuk memeluk dengan cara yang berbeda-beda, Indonesia belum benar-benar kehilangan harapan.
[…] Baca Juga: Cara Gus Dur Memeluk Kita […]