Opini, Inspiratifonline.com - Kita hidup di zaman yang merasa dirinya paling canggih sepanjang sejarah manusia. Segala sesuatu bisa dikendalikan dari layar kecil di genggaman tangan. Kita memesan makanan tanpa keluar rumah, memindahkan uang tanpa menyentuhnya, berbicara lintas benua tanpa suara benar-benar hadir. Gedung-gedung tinggi menjulang, data mengalir lebih cepat dari pikiran, dan dunia tampak berada dalam kendali manusia.
Namun rasa berkuasa itu menyimpan satu kelemahan mendasar: ia berdiri di atas fondasi yang sangat tipis. Seluruh peradaban modern bertumpu pada satu hal yang sering kita anggap remeh yaitu aliran listrik yang tak boleh berhenti. Kabel-kabel tipis itulah yang menyangga mimpi besar bernama kemajuan.
Pertanyaannya sederhana: “Apa yang terjadi jika aliran itu terputus?”.
Tulisan ini bukan ramalan, bukan pula kabar buruk yang ingin menebar ketakutan. Ini adalah simulasi sosial, sebuah what-if scenario untuk menguji seberapa kokoh peradaban yang kita banggakan, jika satu sakelar utama benar-benar padam
Hari Pertama: Ketika Gelap Masih Dianggap Libur
Pada hari pertama, sebagian besar orang menganggap mati listrik sebagai gangguan kecil. Di kota-kota besar, orang menyalakan lilin, bercanda di media sosial. Selama baterai masih ada dan menganggapnya sebagai jeda dari rutinitas yang melelahkan. Ketiadaan listrik dibaca sebagai liburan singkat, bukan ancaman.
Namun di ruang-ruang yang tak terlihat publik, kepanikan mulai bekerja. Sistem kelistrikan yang saling terhubung mati berantai. Pembangkit berhenti, jaringan lumpuh, cadangan daya menyusut. Tidak ada tombol ajaib untuk menyalakan semuanya kembali.