OPINI, inspiratifonline.com – Pertengahan tahun lalu saya iseng-iseng merantau ke Kalimantan. Sebagai seorang pemuda yang arogan dan cepat bosan dengan vibes yang yang cuma itu-itu saja, beragkatlah saya ke Kalimantan tanpa banyak rencana. Di sini saya bekerja sebagai pembina warga muslim di sebuah perusahaan sawit. Dari profesi itu saya dituntut untuk berinteraksi dengan banyak orang. Di moment itu saya melihat banyak kenyataan hidup di perantauan yang penuh hikmah dan plot twist. Dan ini adalah cerita perjalanan seseorang hingga ia bisa sampai di perantauan.

Sebut saja namanya Warman (bukan nama asli) seorang penyintas depresi psikotis yang berkepanjangan tanpa penanganan psikolog, orang-orang biasa menggunakan satu istilah yang lebih mudah, ODGJ. Pak Warman ini bekerja di peternakan sapi milik kerabatnya, sebuah pekerjaan yang bahkan bisa dilakukan oleh seorang yang punya penyakit mental. Sebelum kondisinya seperti sekarang, pak Warman ini sebelumnya adalah orang normal dengan kehidupan yang bisa dibilang serba cukup untuk standar ekonomi sekarang di sebuah daerah di Jawa Tengah.

Di kampungnya sana, beliau dikenal seorang yang tekun dan telaten. Sebagai seorang yang punya penghasilan dari bertani beliau bisa punya rumah dua lantai dan juga tabungan yang cukup untuk menopang kebutuhan hidupnya. Namun siapa sangka badai kahidupan akan dapat membuat dunianya terbalik.

Cerita yang saya dengar dari kerabat beliau, musibah itu bermula ketika istri pak Warman selingkuh dengan seorang mandor bangunan yang saat itu diminta merenovasi rumahnya. Kejadian itu terjadi pada 2020 lalu, yang jelas penyebabnya bukan ekonomi. Saat masih dalam pandemi, model usaha seperti pak Warman ini jarang terkena imbas.

Alih-alih mentalak istrinya, pak Warman lebih memilih untuk mempertahankan rumah tangganya. Mungkin beliau masih berharap istrinya mau bertaubat dan tidak akan mengulanginya lagi. Belum sembuh mental pak Warman, musibah berikutnya datang dari anak perempuan satu-satunya yang saat itu kuliah di Jogja. Ia pulang dengan perut buncit yang berisi janin. Pak Warman pusing tiada kepalang. Anak yang ia biayai mati-matian malah pulang membawa malu. Tak terbayang bagaimana sanksi sosial yang pak Warman dapat.

Singkat cerita anak pak Warman akhirnya menikah dengan seseorang dari kota Padang, teman satu kampusnya. Dari pengakuan si gadis dialah ayah dari bayinya, namun banyak kerabat pak Warman yang skeptis termasuk yang bercerita pada saya. “Mungkin saja pria Padang itu cuma alibi” begitu katanya. Karna beredar kabar kalau pernah ada yang melihat foto anak pak Warman di aplikasi hijau. Tapi entahlah, saya tidak mengorek banyak soal anak pak Warman. Sedikit cerita saja sudah menghasilkan banyak spekulasi.

Tak sampai di situ saja kemalangan pak Warman, tak lama setelah anaknya menikah, istri pak Warman kabur dengan selingkuhanya. Meninggalkan pak Warman dengan kewarasanya yang sudah di pinggir jurang. Dunia seolah-olah bercanda dengan dirinya. Kehidupan yang selama ini ia tata dengan hati-hati kini berantakan tak karuan.

Alih-alih menyalahkan anak dan istrinya yang kurang ajar, pak Warman memilih memperbaiki apa saja yang masih bisa diperbaiki. Dengan telaten ia merawat anak perempuan dan calon cucunya karna suami anaknya hanya datang untuk menikah, lalu pulang ke Padang untuk melanjutkan hidup seolah tak terjadi apa-apa.

Di tengah pak Warman yang sedang membenahi putrinya dan kewarasanya, si istri pulang dengan membawa penyesalan, namun tidak membawa rasa malu. Entah bagaimana cara istri pak Warman meminta maaf, yang pasti ia mengaku khilaf dan berdalih bahwa statusnya masih sah sebagai istri karna pak Warman belum jatuh talak. Dan entah pak Warman yang terlalu baik atau istri dan anaknya yang keterlaluan, keluarga kecil yang sudah dihajar badai habis-habisan itu seolah kembali terbentuk. Namun bentuk itu hanya sekedar tampak dari luar, pak Warman sebagai penghuninya sudah kehilangan segalanya bahkan dirinnya sendiri. Beliau mungkin sudah lelah untuk berfikir jernih.

Dan di sinilah pak Warman mencapai batasnya, ketika anak perempuanya menjalani persalinan dan melahirkan cucu laki-laki pertama bagi pak Warman.Tak ada yang tau ekspresi pak Warman ketika cucunya lahir, ia belum berdoa untuk diberi cucu. Di titik itu kewarasan pak Warman mulai goyah. Biaya persalinan, finansial berantakan, desas-desus tetangga, dan hal-hal lain yang membebani meski bukan dari ulahnya. Tawa-tawa sumbang mulai terdengar.

Matanya kosong menyiratkan betapa berisik pikiranya selama ini hingga ia lelah menggunakanya. Kondisinya akan semakin buruk jika dibiarkan. Hingga salah seorang kerabat di Kalimantan mendengar kabar tersebut lalu memutuskan membawa pak Warman, sekedar untuk mengajaknya beristirahat dari hidup. Dan beginilah kondisi pak warman sekarang, dianggap ODGJ oleh orang-orang yang tak tau banyak tentang beliau.

Beberapa minggu lalu saya sempat ngobrol dengan kerabatnya, ia berencana membawa pak Warman pulang ke kampungnya setelah empat tahun di Kalimantan sekedar untuk menghilangkan rindu. Pak Warman sering maracau menyebut anak dan istrinya, kerabat beliau pun merasa tak tega.

Kabar tarakhir dari anak perempuan pak Warman, saat ini ia menjadi pemandu lagu di sebuah karaoke di Jogja sekaligus menjadi teman gelap seorang pengusaha. Itulah informasi yang saya dapat dari kerabat pak Warman yang lain dan masih aktif berinteraksi dengan anak pak Warman. Kenapa ia tidak mencoba menolong ayahnya ketika kondisinya seperti sekarang??. Entahlah, dia pergi dari rumah beberapa bulan setelah melahirkan, menyerahkan tanggung jawab anaknya pada si ibu lalu tak pernah kelihatan lagi.

Mendengar kilas balik pak Warman, membuat saya bingung menanggapinya. Seolah-olah pak Warman tidak ditakdirkan bahagia, melainkan untuk mengajarkan pada orang lain bahwa hidup tak harus memiliki makna karna ia terlalu sulit di artikan sampai-sampai harus pergi jauh untuk mencarinya.

Penulis: Amir Syahmi

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *