KENDAL, inspiratifonline.com — Hamparan sawah yang dahulu dikenal sebagai salah satu penopang produksi padi di Kecamatan Brangsong, kini tak lagi hijau menguning.
Di Desa Turunrejo dan sekitarnya, puluhan hektare lahan pertanian berubah menjadi genangan air menyerupai tambak akibat luapan sungai dan persoalan sampah yang tak kunjung teratasi.
Air yang meluber hingga ke badan jalan dan permukiman warga disebut sudah berlangsung bertahun-tahun.
Sedimentasi di aliran Sungai Wedus serta tumpukan sampah yang menyumbat memperparah kondisi, membuat air sulit mengalir ke laut dan akhirnya merendam sawah produktif.
Faizin, warga Turunrejo, menuturkan bahwa kondisi tersebut sangat berbeda dibanding beberapa tahun lalu saat wilayah itu masih menjadi sentra pertanian.
“Sekitar enam tahun lalu, sawah di sini masih subur dan hasil padinya bagus. Sekarang sebagian besar sudah tidak bisa ditanami,” ujarnya.
Menurutnya, persoalan tak hanya terjadi saat musim hujan. Bahkan di musim kemarau pun lahan tetap tergenang karena sistem aliran air tidak berjalan normal.
“Airnya tidak bisa cepat surut. Kemarau pun kadang tetap becek dan tidak bisa ditanami padi,” katanya.
Ia menduga ada sejumlah faktor yang memperparah keadaan, mulai dari sedimentasi sungai hingga aktivitas pengurukan di kawasan sekitar yang dinilai kurang memperhatikan dampak lingkungan.
“Selain sedimentasi, sampah juga menumpuk di Sungai Wedus. Kalau tersumbat, air pasti meluap ke sawah,” jelasnya.
Faizin juga menyinggung perlunya peran bersama antara masyarakat dan pemerintah dalam menangani persoalan tersebut.
“Kesadaran warga soal sampah memang perlu ditingkatkan, tapi pemerintah juga harus lebih tanggap melihat kondisi ini,” tegasnya.
Ia berharap lahan pertanian di Turunrejo dapat kembali difungsikan sebagaimana dulu.
“Kami ingin sawah ini kembali seperti dulu, bisa tanam padi lagi. Jangan sampai lahan produktif hilang terus dan tinggal cerita,” pungkasnya.