Opini, Inspiratifonline.com – Kita hidup di zaman yang merasa dirinya paling canggih sepanjang sejarah manusia. Segala sesuatu bisa dikendalikan dari layar kecil di genggaman tangan. Kita memesan makanan tanpa keluar rumah, memindahkan uang tanpa menyentuhnya, berbicara lintas benua tanpa suara benar-benar hadir. Gedung-gedung tinggi menjulang, data mengalir lebih cepat dari pikiran, dan dunia tampak berada dalam kendali manusia.

Namun rasa berkuasa itu menyimpan satu kelemahan mendasar: ia berdiri di atas fondasi yang sangat tipis. Seluruh peradaban modern bertumpu pada satu hal yang sering kita anggap remeh yaitu aliran listrik yang tak boleh berhenti. Kabel-kabel tipis itulah yang menyangga mimpi besar bernama kemajuan.

Pertanyaannya sederhana: “Apa yang terjadi jika aliran itu terputus?”.

Tulisan ini bukan ramalan, bukan pula kabar buruk yang ingin menebar ketakutan. Ini adalah simulasi sosial, sebuah what-if scenario untuk menguji seberapa kokoh peradaban yang kita banggakan, jika satu sakelar utama benar-benar padam

Hari Pertama: Ketika Gelap Masih Dianggap Libur

Pada hari pertama, sebagian besar orang menganggap mati listrik sebagai gangguan kecil. Di kota-kota besar, orang menyalakan lilin, bercanda di media sosial. Selama baterai masih ada dan menganggapnya sebagai jeda dari rutinitas yang melelahkan. Ketiadaan listrik dibaca sebagai liburan singkat, bukan ancaman.

Namun di ruang-ruang yang tak terlihat publik, kepanikan mulai bekerja. Sistem kelistrikan yang saling terhubung mati berantai. Pembangkit berhenti, jaringan lumpuh, cadangan daya menyusut. Tidak ada tombol ajaib untuk menyalakan semuanya kembali.

Malam pertama datang dengan sunyi yang tak biasa. Lampu jalan padam, papan reklame menghilang, dan kota kehilangan wajahnya. Banyak orang baru menyadari bahwa rasa aman mereka selama ini bukan berasal dari keberanian, melainkan dari cahaya yang terus menyala.

Hari Kedua: Ketika Uang Kehilangan Tubuh

Memasuki hari ketiga, ilusi mulai runtuh. Uang digital yang selama ini terasa nyata mendadak tak bisa disentuh. ATM mati, kartu tak bisa digesek, aplikasi pembayaran hanya ikon kosong. Angka-angka di rekening bank tetap ada, tetapi tak lagi memiliki daya beli.

Toko-toko tutup bukan karena kehabisan barang, melainkan karena tak bisa bertransaksi. Mesin kasir mati, timbangan digital tak berfungsi, dan sistem distribusi terhenti. Sinyal telepon menghilang ketika baterai menara pemancar habis.

Di titik ini, manusia modern mulai berhadapan dengan kenyataan pahit: hampir tidak ada cadangan hidup. Air bergantung pada pompa. Makanan bergantung pada pasokan harian. Bahkan memasak nasi tak lagi mudah tanpa gas atau listrik. Selama ini kita hidup dalam sistem yang diasumsikan selalu tersedia.

Keruntuhan pada tahap ini belum berupa kekacauan terbuka. Ia lebih menyerupai kebingungan kolektif, kesadaran bahwa kebiasaan lama tak lagi relevan sementara kebiasaan baru belum sempat dipelajari.

Baca Juga: Cara Gus Dur Memeluk Kita

Minggu Pertama: Ketika Naluri Mulai Berbicara

Satu minggu berlalu. Kota mulai berbau. Sampah menumpuk, limbah meluap, air bersih menghilang. Penyakit mengintai di ruang-ruang padat yang tak lagi memiliki sistem sanitasi.

Rasa lapar mengubah cara manusia memandang sesamanya. Solidaritas yang semula muncul perlahan terkikis oleh kebutuhan paling dasar. Gudang makanan didobrak, toko dijarah, dan aturan hukum kehilangan daya tekan. Dalam kondisi ini, sebagian orang masih berusaha bertahan pada nilai lama, sementara sebagian lain memilih jalan pintas.

Naluri dasar yang lama ditekan oleh kenyamanan kota perlahan muncul ke permukaan. Air bersih menjadi lebih berharga daripada emas, saham, atau aset kripto. Tubuh manusia kembali menjadi pusat perhitungan: apa yang bisa dimakan, diminum, dan dipertahankan hari ini.

Simulasi ini memperlihatkan bahwa peradaban modern mungkin bukan bangunan kokoh, melainkan lapisan tipis yang mudah terkelupas ketika kebutuhan dasar tak lagi terpenuhi.

Minggu Kedua: Kota Sebagai Perangkap

Memasuki minggu kedua, kota besar berubah menjadi ruang yang berbahaya. Apartemen-apartemen tinggi menjelma penjara vertikal: panas, gelap, dan pengap. Tangga menjadi satu-satunya akses, air tak lagi mengalir ke lantai atas, dan bau kematian mulai terasa.

Terjadi eksodus besar-besaran. Ribuan orang berjalan kaki meninggalkan kota, membawa apa pun yang masih bisa dipikul. Jalanan dipenuhi manusia yang dulu percaya bahwa hidup modern tak tergantikan.

Ironisnya, wilayah yang selama ini dianggap tertinggal justru memiliki peluang bertahan lebih besar. Mereka yang masih memiliki sumur, sungai, kayu bakar, dan sumber pangan mandiri tidak sepenuhnya bergantung pada sistem pusat. Mereka tidak lebih pintar, hanya lebih dekat dengan cara hidup yang tidak sepenuhnya diserahkan pada mesin.

Sementara itu, warga kota dengan gelar, jabatan, dan status sosial tinggi mendapati dirinya tak berdaya. Di hadapan lapar dan haus, simbol-simbol prestise kehilangan makna. Kekuasaan bergeser kepada mereka yang menguasai alat-alat paling dasar untuk bertahan hidup.

Hari Ketiga Puluh: Sistem yang Mati Perlahan

Setelah 30 hari tanpa listrik, negara modern secara teknis berhenti berfungsi. Kantor pemerintahan tutup, sekolah tak berjalan, hukum kehilangan bentuk operasionalnya. Negara tidak runtuh dalam satu ledakan besar, melainkan mati perlahan karena kehilangan denyutnya.

Jalan tol dipenuhi mobil-mobil mewah yang ditinggalkan, kehabisan bahan bakar. Alam mulai merebut kembali ruang kota. Rumput tumbuh di sela trotoar, binatang liar mendekat ke pusat permukiman.

Manusia yang bertahan hidup menjadi keras dan selalu waspada. Teknologi yang tersisa—televisi, komputer, ponsel (HP) dipandang sebagai artefak dari masa lalu, sisa peradaban yang pernah percaya bahwa dirinya telah melampaui alam.

Peradaban digital berakhir bukan karena perang atau meteor, melainkan karena kegagalan sistem yang terlalu lama dianggap mustahil runtuh.

Refleksi: Tawanan Kemajuan

Simulasi ini menunjukkan satu hal yang jarang kita akui: kemajuan modern membuat manusia sangat efisien, tetapi juga sangat rapuh. Kita merasa maju bukan karena kuat, melainkan karena sistem bekerja tanpa henti. Ketika sistem itu berhenti, kita kebingungan karena terlalu lama menyerahkan keterampilan dasar kepada mesin.

Masalahnya mungkin bukan pada teknologi, melainkan pada cara kita memperlakukannya sebagai pengganti, bukan alat. Kita memindahkan ingatan ke server, kearifan ke algoritma, dan daya hidup ke tombol-tombol. Ketika tombol itu mati, kita panik karena lupa bahwa tangan manusia pernah bisa menanam, api pernah bisa dinyalakan, dan kebersamaan pernah tumbuh tanpa sinyal.

Peradaban besar tidak membutuhkan bencana kosmik untuk runtuh. Ia hanya membutuhkan satu sebab kecil yang merusak sakelar utama, lalu membiarkan manusia cukup lama berada dalam gelap hingga ia dipaksa bernegosiasi ulang dengan dirinya sendiri.

Apakah ini berarti kita harus menolak kemajuan? Tidak. Pertanyaannya lebih jujur dan lebih sulit: apakah kita masih merawat kemampuan dasar agar tetap berdaulat di tengah sistem apa pun? Ataukah kita sepenuhnya menjadi tawanan dari kenyamanan yang kita ciptakan sendiri?

Pertanyaan itu layak direnungkan setiap kali lampu menyala di rumah kita malam ini.

 

One thought on “Protokol Nol: Peradaban yang Berdiri di Atas Sakelar”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *