Opini, Inspiratifonline.com – Di bawah naungan langit seorang pemuda menantang malam di jalan Sawah Jati, Kaliwungu. ada sebuah sudut kecil yang menjadi pelarian dari hiruk-pikuk Kota Santri. Di sini, aroma tanah sehabis hujan bersaing dengan wangi kopi lokal yang baru saja diseduh di atas meja kayu sederhana.
Bukan sekadar tempat singgah, kedai pinggir jalan ini adalah sebuah “perpustakaan terbuka”. Di atas rak kayu jati Belanda yang terpapar angin sepoi-sepoi, berjejer buku-buku yang siap menemani setiap tegukan kopimu. Ada novel sejarah, kumpulan cerpen, hingga buku buku yang di tulis oleh ulama, salah satunya Mbah Ubdaillah Sodaqoh ROIS SYURIAH PW NU JATENG Dan Gus Umar Wahid putra dari KH. WAHID HASYIM, buku ringan yang selaras dengan napas Kaliwungu yang religius namun terbuka.
Sejauh mata memandang, hamparan sawah hijau dibalik tirai payung hijau memberikan ketenangan yang tak bisa dibeli. Di sini, waktu seolah berjalan lebih lambat. Gemerisik daun padi yang saling bergesekan menjadi musik latar alami, menggantikan kebisingan knalpot di jalan raya.
Orang-orang datang bukan untuk sekadar memotret, tapi untuk benar-benar hadir. Sambil memegang cangkir yang masih mengebul, mereka tenggelam dalam barisan kalimat dari buku yang dipinjam. Di Sawah Jati, kopi adalah pembuka percakapan dengan diri sendiri, dan buku adalah jendela untuk melihat dunia dari pinggiran Kendal yang bersahaja.
Penulis: Anam