Opini, Inspiratifonline.com – Aku yakin kamu pernah merasakan ini. Berjalan di trotoar yang bersih, lalu tiba-tiba melihat seseorang dari mobil mewah atau mahasiswa dengan jaket almamater keren, membuang bungkus plastik begitu saja ke jalanan.

Rasanya ada yang bergejolak di dalam dada, bukan? Kita sering sepakat bahwa pendidikan adalah salah satu jalan menuju kesuksesan.

Namun melihat pemandangan itu, aku mulai bertanya-tanya. Apakah kita selama ini hanya mengejar angka dan melupakan etika?

​Dalam tulisan ini, aku ingin mengajakmu menyelami sebuah ironi yang sering kita abaikan, di balik megahnya gedung sekolah dan universitas.

Kita akan membedah mengapa pendidikan moral sering kali kalah telak oleh ego. Lal, bagaimana sebuah kesalahpahaman tentang “makna menjadi terdidik” justru mengotori masa depan kita semua.

​Jebakan Gelar yang Membuat Kita Merasa “Lebih Tinggi”

​Beberapa waktu lalu, aku sempat mengobrol dengan seorang teman yang baru saja menyelesaikan gelar magisternya.

Dia cerdas, IPK-nya nyaris sempurna. Namun, saat kami makan di pinggir jalan, dia meninggalkan tisu bekas dan botol plastiknya begitu saja di bawah meja. Ketika aku menegurnya pelan, dia hanya menjawab, “Ah, nanti juga ada tukang sapu yang beresin. Itu kan tugas mereka.”

​Kalimat itu memukulku cukup keras. Di sana aku sadar, ada kesalahpahaman fatal yang sering ditelan bulat-bulat, oleh orang-orang yang merasa sudah “makan bangku sekolah” tinggi-tinggi.

Banyak dari kita yang merasa, pendidikan adalah tiket untuk dilayani, bukan untuk melayani atau setidaknya menjaga kebermanfaatan umum.

​Kita terjebak dalam psikologi hierarki. Karena merasa sudah memiliki gelar. Kita merasa pekerjaan-pekerjaan kecil, seperti membuang sampah pada tempatnya, adalah urusan orang-orang yang “tidak memiliki pendidikan.”

Padahal, di saat itulah, pendidikan kita sebenarnya sedang diuji dan sayangnya, kita gagal total.

​Logika ini sangat berbahaya. Saat kamu merasa lebih tinggi dari orang lain karena pendidikan formal, empatimu biasanya mulai tumpul.

Kamu lupa bahwa kebersihan, adalah tanggung jawab kolektif. Itu bukan sekadar tugas orang-orang dengan strata ekonomi yang lebih rendah.

Baca juga: Hedonic Adaptation : Bahagia yang Mati Rasa

​Ketika “Orang Kecil” Justru Menjadi Guru Kehidupan yang Sebenarnya

​Mari kita bandingkan dengan pemandangan yang sering kita lihat di gambar-gambar reflektif. Seorang anak jalanan atau pemulung yang dengan telaten, memungut botol plastik yang baru saja dibuang oleh seorang sarjana. Ini adalah tamparan keras bagi sistem pendidikan kita.

​Aku teringat pengalamanku sendiri saat terjebak hujan di sebuah halte. Ada seorang bapak tua, pakaiannya lusuh, mungkin dia tidak pernah mencicipi bangku SMA.

Ia melihat sampah plastik yang menyumbat saluran air di dekat halte. Tanpa banyak bicara, dia membungkuk, mengambil sampah basah itu. Lalu memasukkannya ke kantongnya untuk dibuang nanti.

​Di saat itu, aku merasa sangat kecil. Aku yang memegang gadget terbaru. Saat aku bangga dengan gelar yang aku punya, justru hanya diam menonton.

Bapak itu, yang mungkin dianggap “kurang berpendidikan” oleh standar masyarakat, justru menunjukkan tingkat intelektualitas moral, yang jauh melampaui rata-rata kita.

​Inilah bukti nyata bahwa pendidikan, bukan hanya soal apa yang kamu pelajari di dalam kelas. Namun, apa yang kamu praktikkan di luar kelas.

Pengalaman (Experience) nyata di lapangan menunjukkan bahwa karakter dibentuk oleh kesadaran, bukan sekadar hafalan teori sosiologi, ekologi dan sejenisnya.

Jika pendidikan tidak mampu membuatmu merasa malu saat mengotori lingkungan, maka ada yang salah dengan cara kita belajar dan berpikir.

Baca juga: Gen Z, Apatisme, dan Demokrasi yang Kehilangan Daya Tarik

​Mengubah Pola Pikir: Kembali ke Akar Moralitas dan Tanggung Jawab

​Lalu, bagaimana kita memperbaiki ini? Kita tidak bisa terus-menerus membiarkan narasi, “Sarjana yang Mengotori Masa Depan” ini menjadi normal baru. Kita perlu melakukan dekonstruksi, terhadap apa yang kita sebut sebagai “orang terdidik.”

​Pertama, kita harus sepakat bahwa pendidikan tanpa adab hanyalah pemborosan waktu.

Aku sering bilang ke diriku sendiri, “Jangan sampai gelarmu hanya membuatmu menjadi penindas bagi lingkunganmu sendiri.” Kita perlu menumbuhkan kembali rasa bersalah yang sehat. Rasa malu saat kita melanggar aturan kecil, sinyal akan nurani kita yang masih berfungsi.

​Kedua, mulailah melihat sekitar dengan kacamata kesetaraan.

Orang yang memungut sampahmu di jalan bukan berarti mereka lebih rendah darimu. Justru, mereka sedang memperbaiki kekacauan yang kamu buat. Secara moral, mereka berada jauh di depanmu.

​Percayalah, dunia tidak butuh lebih banyak orang pintar yang arogan.

Dunia butuh orang-orang yang sadar akan setiap tindakan kecil. Sadar seperti menyimpan bungkus permen di kantong sampai menemukan tempat sampah, adalah bentuk penghormatan terhadap kehidupan itu sendiri.

​Seharusnya: Pendidikan yang Membumi

​Pendidikan seharusnya membuat kita semakin merunduk seperti padi, bukan semakin mendongak dan buta terhadap kebersihan lingkungan.

Jangan sampai kita menjadi sarjana yang justru, mengotori masa depan anak cucu kita. Hanya karena rasa malas dan ego yang terlalu besar.

​Mari kita mulai lagi dari hal-hal yang sederhana. Karena pada akhirnya, tanda seseorang benar-benar terdidik, bukan dilihat dari seberapa panjang deretan gelar di belakang namanya. Melainkan dari seberapa bersih jejak, yang ia tinggalkan di muka bumi ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *