Opini, Inspiratifonline.com – Ada sebuah rumah tua.
Dibangun bukan oleh satu tangan, tapi oleh ratusan niat baik.
Dindingnya dari doa, tiangnya dari sabar, atapnya dari waktu.

Rumah itu terlalu besar untuk dimiliki satu keluarga.
Terlalu lapang untuk dikunci oleh satu tafsir.
Ia berdiri karena orang-orang di dalamnya rela mengalah agar yang lain tetap teduh.

Akhir-akhir ini, rumah itu ramai.
Bukan karena pesta.
Bukan karena syukuran.
Tapi karena penghuninya saling menunjukkan denah, sambil berkata:
“Menurutku, pintu harus di sini.”
“Tidak, menurutku di sana.”

Padahal yang di luar hanya ingin berteduh.
Tak peduli pintunya di mana, asal bisa masuk tanpa dimarahi.

Sebagian penghuni sibuk membuka buku aturan.
Sebagian lain memegang surat amanah lama.
Keduanya sama-sama merasa benar.
Keduanya lupa bahwa rumah ini dulu dibangun bukan oleh pasal,
melainkan oleh kepercayaan.

Di ruang tengah, suara makin meninggi.
Padahal rumah tua tidak suka teriakan.
Ia retak pelan-pelan, bukan karena dibenci,
tapi karena terlalu sering ditarik ke dua arah.

Emha Ainun Nadjib (Cak Nun) pernah mengingatkan dengan kalimat yang sederhana tapi tajam:

“Yang paling berbahaya dari kebenaran adalah ketika ia tidak disertai kasih sayang.”

Di titik itulah kebenaran kehilangan fungsinya sebagai cahaya,
dan berubah menjadi alat saling melukai.

Orang-orang bijak dulu mengajarkan:
kalau kau mencintai rumahmu, jangan berdiri di atap sambil berdebat.
Turunlah ke lantai.
Duduklah.
Dengarkan napas satu sama lain.

Yang sedang terjadi barangkali bukan soal siapa paling sah memegang kunci,
tapi siapa yang paling lupa bahwa kunci itu bukan untuk dipamerkan,
melainkan untuk membuka pintu bagi mereka yang kedinginan.

KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur), dengan cara yang sangat membumi, pernah berkata:

“Tidak penting apa agamamu atau apa organisasimu.
Kalau kamu tidak bisa berbuat baik kepada sesama,
maka semua itu tidak ada artinya.”

Kalimat itu tidak sedang meremehkan rumah,
justru sedang menyelamatkannya dari kesombongan penghuninya sendiri.

Rumah besar ini tidak butuh pemenang.
Ia butuh penjaga.
Penjaga yang rela tidak disebut namanya,
asal lampu tetap menyala dan tikar tetap terbentang.

Jika rumah ini roboh,
yang tertimpa bukan hanya mereka yang berdebat di dalam,
tapi juga mereka yang sejak awal percaya bahwa rumah ini adalah tempat pulang.

Maka, sebelum kita saling mengunci dari dalam,
ada baiknya kita ingat:
rumah ini lebih tua dari ambisi kita,
dan jauh lebih sabar dari ego kita.

Dan rumah, seperti hati,
tidak pernah minta dibela dengan suara keras.
Ia hanya ingin dirawat dengan adab.

Sebagai penutup, sebuah puisi lirih dari hati :

Mualem : Menangis di Kursi Amanah

Doa Kecil di Serambi

Tuhan,
jika kami sedang benar,
tolong lembutkan cara kami memegang kebenaran itu.

Jika kami sedang salah,
jangan Kau biarkan kesalahan itu berubah menjadi kesombongan.

Ajari kami kembali duduk melingkar,
mendengar sebelum menyimpulkan,
mengalah tanpa merasa kalah.

Jangan Kau biarkan rumah yang Kau titipkan ini
retak hanya karena kami lupa cara mengetuk pintu satu sama lain.

Amin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *