Opini, Inspiratifonline.com – Aku tahu rasanya ketika kamu membaca sebuah kutipan bijak di media sosial. Saat kamu mendengar argumen seseorang yang terdengar sangat meyakinkan.

Lalu, tiba-tiba kamu merasa bahwa itulah kebenaran mutlak. Kita seringkali terpesona oleh keindahan susunan kalimat dan kelancaran bahasa. Sampai kita lupa memeriksa apakah ada logika yang sehat di baliknya (bukan logical falacy).

Masalahnya, di era banjir informasi ini, kita makin sulit membedakan. Mana yang benar-benar cerdas dengan mana yang hanya pandai bersandiwara seolah-olah ia cerdas: seperti AI.

Tenang saja, kamu tidak sendirian dalam kebingungan ini. Dalam tulisan kali ini, aku ingin mengajakmu menyelami mengapa kita begitu mudah “terhipnotis”.

Secara tak sadar, tertipu oleh bahasa dan bagaimana cara kita membangun kembali benteng logika yang kuat.

Kita akan membedah ilusi kecerdasan buatan, memahami tiga tahap kebenaran yang menyakitkan, dan belajar melihat melampaui data yang tersaji untuk menemukan akar masalah yang sesungguhnya.

Menyadari Ilusi Artificial Narrative Fluency dalam Keseharian

Beberapa waktu lalu, aku sempat terjebak dalam rasa kagum yang berlebihan terhadap teknologi AI.

Aku merasa ia adalah “otak” baru yang bisa menjawab segala kegelisahanku. Ia bisa menjawab dengan kalimat-kalimat yang puitis dan terstruktur.

Namun, ada satu momen yang membuatku tersadar. Sebuah momen yang cukup memalukan secara personal, bagi seorang penulis seperti aku.

Aku mencoba meminta saran tentang sebuah masalah yang sedang kuhadapi. AI tersebut menjawab dengan sangat lancar, memberikan poin-poin yang terlihat sangat solutif.

Namun, setelah kupikirkan lagi sambil merenung di tengah malam. Aku sadar bahwa jawaban itu kosong. Ia hanya merangkai kata-kata yang umum digunakan untuk menanggapinya, tanpa benar-benar memahami rasa sakitnya. Juga gagal secara logika.

Di situlah aku belajar tentang istilah Artificial Narrative Fluency. AI hari ini sebenarnya bukanlah sebuah otak yang bernalar. Ia adalah aktor yang sangat mahir menyamar sebagai otak. Ia hanya memiliki kelancaran bersandiwara, seolah cerdas karena ia dilatih untuk menata kata.

Ia bukan untuk memahami makna di balik kata-kata tersebut.Kita sebagai manusia seringkali melakukan kesalahan fatal: kita menilai kemampuan menata kata sebagai kemampuan bernalar. Padahal, keduanya berada di kelas yang berbeda. Seseorang bisa saja pandai menghafal sesuatu yang hebat, tanpa pernah benar-benar menemukan akar masalahnya.

Bca juga: Amerika Serikat: Di Tengah Bayang Dunia dan Pax Judaica

Tiga Tahap Kebenaran: Mengapa Logika Sehat Seringkali Ditentang

Itulah mengapa kita perlu lebih jeli melihat, apakah sebuah pernyataan memiliki “jiwa” atau hanya sekadar algoritma kata-kata. Membangun logika yang mandiri itu menyakitkan, kawan. Aku pernah mencoba menyuarakan sebuah kebenaran sederhana di lingkungan kerjaku yang sudah sangat kaku.

Alih-alih diterima, aku justru melewati fase yang persis seperti kutipan legendaris: kebenaran itu pertama-tama akan ditertawakan.

Awalnya, mereka menganggap ideku sebagai lelucon. Saat aku terus bertahan dengan logika tersebut, tahap kedua muncul: aku ditentang dengan kasar.

Mereka merasa terancam karena logika yang sehat biasanya, membongkar kemalasan atau kepentingan tersembunyi. Rasanya berat, jujur saja. Aku sempat ingin menyerah dan ikut-ikutan saja menjadi “pintar meniru” tanpa perlu benar-benar berpikir kritis.

Namun, jika kita konsisten, kebenaran itu akhirnya akan sampai pada tahap ketiga: diterima tanpa pembuktian dan alasan lagi.

Orang-orang akan mulai menganggapnya sebagai sesuatu yang sudah seharusnya begitu. Pengalaman ini mengajarkanku, kecerdasan yang sejati bukan soal seberapa banyak data yang bisa kita sajikan.

Pintar menyediakan data itu mudah, tapi pintar membaca kepentingan di balik data tersebut adalah tingkat logika yang lebih tinggi.

Kita harus berani menghadapi tawa dan pertentangan demi mempertahankan logika yang benar. Jangan biarkan dirimu hanya menjadi “papan pengumuman” data, tanpa sekali pun pernah mempertanyakan, apa yang sebenarnya sedang terjadi di balik layar.

Alih-alih apa, bagaimana, dimana dan kapan, pertanyaan mengapa jarang sekali diajukan.

Baca juga: Ancaman Tersembunyi “Cyber Algorithma” pada Negeri Ini

Mengasah Ketajaman Berpikir di Balik Deretan Angka dan Data

Kita hidup di dunia yang memuja angka. Kita sering menganggap bahwa seseorang yang pintar menghitung, pasti seseorang yang pintar berpikir.

Padahal, aku pernah bertemu dengan orang yang sangat jago matematika. Namun, ia benar-benar bingung saat harus mengambil keputusan hidup. Ia rentan, pada apa yang melibatkan empati dan konsekuensi jangka panjang.

Menghitung itu soal mekanis, tapi berpikir itu soal kebijaksanaan. Begitu juga dengan data. Di era digital, kita dibombardir dengan statistik yang terlihat sangat ilmiah. Namun, ingatlah bahwa data hanyalah alat. Seseorang yang pintar menyediakan data, belum tentu pintar membaca arah kepentingan di balik data tersebut. Akan menjadi seperti apa kedepannya.

Aku selalu mengingatkan diriku sendiri: jangan puas hanya dengan menjadi orang yang pandai meniru. Meniru adalah kemampuan teknis, tapi menemukan akar masalah, inilah kemampuan intelektual yang mendalam. Jangan sampai kita menjadi sarjana yang “pintar berteori” tapi gagal total dalam bertindak karena logika kita sudah tumpul oleh narasi-narasi instan.

Kesalahan AI adalah ia tidak bisa berlogika, ia tidak bisa merasakan duka atau kepentingan, Karana ia tidak mengalami.

Ia hanya meniru pola. Kita sebagai manusia punya keunggulan lebih dari itu.

Gunakanlah logikamu untuk melihat apa yang tidak tertulis. Lihatlah niat di balik kata-kata indah. Dengan begitu, kamu tidak akan mudah tertipu oleh sandiwara kecerdasan, yang sekarang makin marak di sekeliling kita.

Logika adalah kompas, yang akan menjagamu agar tidak tersesat di tengah lautan informasi yang semu. Jangan biarkan dirimu hanya menjadi aktor yang mahir menata kata tanpa memiliki kemampuan bernalar yang nyata.

Tetaplah bertanya, tetaplah kritis, dan jangan takut jika kebenaranmu harus ditertawakan terlebih dahulu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *