OPINI, inspiratifonline.com – Rumahku selama ini adalah sebuah ruang yang tertutup rapat, sunyi, namun terasa penuh karena ada seseorang di dalamnya. Aku merasa aman, mengira bahwa selama pintu itu terkunci, semuanya akan baik-baik saja.

Namun tiba-tiba, sebuah ketukan terdengar dari dalam, bukan ketukan untuk masuk, melainkan ketukan yang memintaku untuk membukakan pintu. Seseorang itu ingin keluar.

Kepalaku mulai riuh oleh pertanyaan yang tak ada habisnya.

Apakah tembok rumahku sudah terlalu rapuh untuk melindunginya?

Apakah udara di dalam sini terlalu panas dan menyesakkan?

Ataukah memang sejak awal, rumah ini tak pernah benar-benar menjadi tempat yang nyaman baginya?

Rasa panik mulai menjalar seperti api. Aku tidak ingin dia pergi. Aku mulai menggeledah setiap sudut, membongkar laci-laci tua, mengangkat karpet, hingga semua isi rumahku berantakan.

Di tengah kekacauan itu, aku bukan hanya sedang mencari kunci, tapi aku sedang memohon pada waktu agar tidak berjalan terlalu cepat. Aku merasa hina di antara barang-barang yang berserakan, hanya demi menahan seseorang yang hatinya sudah tidak lagi di sini.

Dan akhirnya, di antara debu dan keputusasaan, jemariku menyentuh logam dingin itu. Kuncinya ketemu.

Aku berdiri dengan tubuh lemas. Tidak ada lagi sisa tenaga untuk memohon. Dengan tangan bergetar, kuserahkan kunci itu kepadanya. Aku tidak berkata apa-apa. Aku menyerahkan sepenuhnya kendali pintu itu ke tangannya.

Jika dia masih bersikeras untuk melangkah keluar, aku sudah tidak punya lagi alasan untuk menghalangi.

“Pergilah,” bisikku dalam hati, meski jiwaku menjerit sebaliknya.

Aku hanya minta satu hal pada semesta:Jangan biarkan aku melihat punggungnya saat ia melangkah menjauh.

Aku tidak sanggup menyaksikan detik-detik saat dia menghilang dari pandangan. Biarkan saja aku terjaga di sudut lain. Lalu, biarlah saat aku menoleh nanti, ia sudah tidak ada. Tanpa tahu kapan tepatnya ia melangkah, tanpa tahu lewat mana ia pergi.

Biarkan aku menutup mata, dan ketika aku membukanya nanti, aku hanya perlu belajar satu hal yang paling sulit: “Bagaimana cara mencintai sebuah rumah yang kini telah kosong, dingin, dan tak lagi berpenghuni”.

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *