KENDAL, Inspiratifonline.com — Minimnya ruang aman bagi remaja perempuan untuk mengekspresikan pengalaman hidup masih menjadi tantangan di tingkat lokal. Banyak cerita personal yang berhenti sebagai beban pribadi karena tidak adanya wadah yang mendukung proses berbagi dan refleksi secara sehat.

Kondisi tersebut mendorong Suara Inklusi Kendal menginisiasi Jagongan Sinok, sebuah kelas menulis yang dirancang khusus bagi remaja perempuan. Kegiatan ini mengangkat tema penguatan ekspresi diri melalui pengalaman personal sebagai bentuk pembelajaran dan kesadaran sosial.

Merujuk pamflet kegiatan, Jagongan Sinok digelar selama dua hari. Hari pertama berlangsung Sabtu (7/2/2026) dengan sesi pemantik materi sejak pagi hingga selesai. Kegiatan berlanjut pada Minggu (8/2/2026) melalui kelas praktik menulis yang dimulai pukul 08.00 WIB.

Sejumlah pemantik dihadirkan dalam kegiatan ini, salah satunya Ani Rufaida dari PERCA Resource Center for Women and Girls. Ia menekankan bahwa menulis dapat menjadi ruang aman bagi perempuan untuk berdialog dengan dirinya sendiri.

“Menulis memberi kesempatan bagi perempuan untuk memahami pengalaman hidupnya tanpa tekanan penilaian dari luar,” ujar Ani Rufaida.

Pemantik berikutnya, Fitri Indra Harjanti dari PERCA Resource Center for Women and Girls, menyoroti nilai penting pengalaman personal jika dituangkan dalam tulisan yang jujur.

“Pengalaman sehari-hari remaja perempuan sering dianggap sepele, padahal jika dituliskan dengan sadar justru punya kekuatan besar,” katanya.

Sementara itu, penulis dan aktivis perempuan Kalis Mardiasih mengajak peserta untuk berani bersuara melalui tulisan, tanpa harus menunggu merasa sempurna.

“Menulis bukan soal siapa paling pintar, tapi siapa yang berani bercerita. Keberanian itu sudah menjadi langkah awal perubahan,” tutur Kalis Mardiasih.

Ketua Suara Inklusi Kendal, Aslamiah, menjelaskan bahwa Jagongan Sinok lahir dari kegelisahan pribadinya saat melihat perbedaan ruang diskusi perempuan di Kendal dan Yogyakarta.

“Selama delapan tahun saya tinggal di Jogja, saya menemukan banyak ruang diskusi yang sangat berdampak bagi perempuan. Dari situ saya bertanya, kenapa di Kendal belum ada ruang serupa,” ungkap Aslamiah.

Ia menambahkan, Jagongan Sinok tidak dirancang sebagai kegiatan sekali selesai, melainkan bagian dari proses pendampingan berkelanjutan.

“Kegiatan ini akan diikuti dengan mentoring dan ruang diskusi lanjutan, disesuaikan dengan kebutuhan peserta,” ujarnya.

Di akhir, Aslamiah berharap Jagongan Sinok mampu menjadi pemantik agar isu perempuan dan inklusivitas semakin terbuka dibicarakan di Kendal.

“Harapannya, isu perempuan dan kelompok marginal tidak lagi dianggap tabu, tapi dipahami sebagai persoalan sosial yang perlu dibicarakan bersama,” pungkasnya.

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *