OPINI, inspiratifonline.com – Ketika Alam Rusak, Gajah Dipanggil Jadi ‘Pekerja Darurat’. Siapa Sebenarnya yang Butuh Diselamatkan? Banjir bandang yang terjadi di pulau Sumatra pada 26 November 2025 khususnya di Kabupaten Pidie Jaya, Aceh, bukan hanya menghancurkan rumah warga, tetapi juga meninggalkan tumpukan kayu yang menutup jalur akses. Untuk mencapai lokasi yang tidak dapat ditembus alat berat, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh mengerahkan empat gajah terlatih dalam operasi penanganan darurat banjir di Kecamatan Meureudu dan Meurah Dua, Kabupaten Pidie Jaya, Provinsi Aceh.

Keempat gajah bernama Abu, Mido, Ajis, dan Noni didampingi para mahout dan ditugaskan untuk membantu membersihkan material yang berserakan.

Empat gajah tersebut didatangkan dari Pusat Latihan Gajah (PLG) Saree, Kabupaten Aceh Besar. Mereka diangkut menggunakan truk pada Minggu sore, 7 Desember 2025, dan tiba di wilayah Pidie Jaya pada malam harinya. Keesokan pagi, Senin, keempat gajah langsung dikerahkan untuk membantu membuka kembali jalur transportasi darat antardesa yang masih terputus di sejumlah wilayah Kecamatan Meurah Dua dan Kecamatan Meureudu, Pidie Jaya.

Di tengah hamparan lumpur dan batang-batang kayu raksasa yang berserakan setelah banjir bandang, empat gajah Sumatra tampak bergerak perlahan. Tubuh besar itu menarik kayu-kayu gelondongan yang menutup akses desa, membantu membuka jalur bagi warga dan petugas.

Di balik pemandangan yang tampak heroik itu, tersimpan sebuah ironi bahwa hewan yang kehilangan habitat asli akibat ulah manusia justru dipanggil untuk membereskan kekacauan yang bukan mereka sebabkan. Gajah-gajah tersebut hadir bukan sebagai pihak yang harus dilindungi, melainkan sebagai alat bantu dalam situasi darurat yang lahir dari kerusakan lingkungan.Sementara itu, gajah Sumatra saat ini berstatus Critically Endangered menurut International Union for Conservation of Nature (IUCN).

Status ini menandakan bahwa gajah Sumatra berada dalam ancaman kepunahan yang sangat serius di alam liar, terutama akibat menyusutnya habitat karena alih fungsi lahan untuk perkebunan dan permukiman, praktik perburuan, serta meningkatnya konflik antara manusia dan gajah. Populasinya diperkirakan hanya tersisa sekitar 1.500–2.000 individu, sebuah angka yang menunjukkan tingginya risiko kepunahan dalam waktu yang tidak lama.

Pihak berwenang menyebut kehadiran gajah sangat membantu, terutama di lokasi-lokasi yang tak bisa dijangkau alat berat. Gajah memang memiliki kekuatan dan ketahanan yang sulit ditandingi. Mereka bisa melintasi area berlumpur, menapaki jalur terjal, dan menarik batang pohon yang bobotnya melebihi berat manusia. Dalam konteks darurat, pilihan ini kerap dianggap sebagai solusi paling memungkinkan ketika waktu dan alat sangat terbatas.Di permukaan, gambaran ini terlihat sebagai bentuk harmoni antara manusia dan satwa liar.

Namun bagi sebagian orang yang mencermati lebih jauh, momen ini justru membuka pertanyaan yang lebih besar, khususnya tentang hubungan manusia dengan alam selama inKetika Hutan Rusak, Gajah Kehilangan Arah HabitatHutan Sumatra, yang dahulu menjadi benteng megah keanekaragaman hayati, kini menyisakan jejak kehilangan yang sulit disembunyikan.

Pembukaan lahan besar-besaran, kebakaran, dan perambahan ilegal memecah-mecah habitat gajah, membuat jalur jelajah yang dulu luas kini terpotong-potong. Data menunjukkan bahwa Sumatra kehilangan jutaan hektare hutan alam dalam beberapa dekade terakhir, terutama akibat penebangan pohon secara besar- besaran dan pembangunan infrastruktur.Ketika ruang hidup menyempit, gajah terpaksa menembus kebun, permukiman, hingga ladang yang sebenarnya bukan wilayah mereka.

Konflik pun meningkat, bukan karena sifat agresif gajah, melainkan karena mereka tak lagi punya tempat kembali. Konflik manusia dengan gajah, di Aceh sendiri tercatat terjadi hampir setiap tahun, sering kali berujung pada luka, kematian satwa, atau kerugian warga.Setelah bencana melanda, warga menemukan seekor gajah tertimbun material longsoran di Pidie Jaya, Aceh, pada Sabtu, 29 November 2025. Hewan yang biasanya melintas anggun di balik rerimbunan itu mati dalam kondisi mengenaskan, tertutup tanah dan kayu-kayu besar.

Kehilangan ini bukan hanya tragedi ekologis, tetapi juga tanda betapa rapuhnya keberadaan mereka di tengah perubahan lanskap yang kian tak dapat mereka pahami.Kini, hanya beberapa waktu setelah kehilangan tersebut, gajah-gajah lainnya justru di kerahkan ke lokasi bencana. Bukan untuk direhabilitasi, tetapi untuk “bekerja” memindahkan kayu, membersihkan lumpur, dan membuka jalan yang tertutup. Ironi ini terlalu jelas untuk diabaikan. Gajah yang Bekerja Tanpa PilihanDi banyak titik, batang-batang pohon besar yang terhanyut banjir memblokir akses. Jalanan retak, jembatan rusak, dan alat berat sulit masuk. Di sinilah gajah menjadi andalan.

Mereka bergerak dengan tenang, patuh pada instruksi pawang, menarik kayu-kayu yang bahkan dua mesin truk pun tak sanggup memindahkannya.Banyak warga menyebut gajah sebagai penyelamat, sebagian memuji kekuatan dan keteguhan mereka. Namun jarang yang bertanya: apakah mereka baik-baik saja? Apakah mereka ingin berada di sana? Tidak sedikit yang lupa bahwa mereka juga korban, hanya saja tidak dapat bersuara.Jika situasi ini dibalik, seakan seseorang yang rumahnya dibakar, ladangnya digusur, dan keluarganya tercerai-berai justru diminta membantu membersihkan puing-puing sebagai balas jasa.

Terlihat mulia, tetapi sebenarnya penuh dengan tekanan dan ketidakadilan yang terselubung. Kondisi ini menunjukkan relasi kuasa yang timpang antara manusia dan satwa, di mana kebutuhan manusia selalu menjadi prioritas, sementara keselamatan satwa dianggap sekunder. Manusia Kagum, tapi Jarang BerkacaGambar gajah-gajah bekerja pascabencana cepat menyebar. Banyak yang menuliskan komentar haru, kagum, bahkan bangga dengan kemampuan mereka.

Namun sesungguhnya, yang lebih dibutuhkan bukan kekaguman, melainkan refleksi.Gajah bukan pekerja konstruksi. Mereka bukan bagian dari tim SAR. Mereka hanya hewan yang kebetulan memiliki kekuatan fisik besar. Dan fakta bahwa mereka dipanggil untuk membantu justru menunjukkan betapa berat dampak kerusakan lingkungan saat ini hingga manusia harus meminta bantuan makhluk yang habitatnya bahkan sudah hampir habis.Gajah menghabiskan energi besar untuk setiap batang kayu yang mereka pindahkan. Mereka terpapar suara mesin, asap, rombongan orang, dan situasi asing yang tidak selalu nyaman. Ketika bekerja, mereka menanggung risiko cedera, gangguan kesehatan, atau tekanan emosional akibat lingkungan yang terlalu ramai.

Namun risiko-risiko ini jarang menjadi bagian dari narasi ketika publik membagikan foto-foto heroik mereka.Bencana yang Tidak Lagi Alami SepenuhnyaBanjir dan longsor memang merupakan bagian dari siklus alam, tetapi skala dan intensitas yang terjadi belakangan ini menunjukkan kontribusi manusia yang sangat besar. Hutan yang gundul membuat tanah kehilangan kekuatan mengikat air. Sungai yang dipersempit membuat aliran air tak lagi stabil. Semua kondisi ini memperparah dampak bencana dan mempercepat kerusakan.Ketika bencana terjadi, yang paling terpukul bukan hanya manusia, tetapi juga satwa liar.

Mereka kehilangan tempat berlindung, sumber makanan hilang, dan wilayah jelajah berubah menjadi kawasan berbahaya. Gajah yang tertimbun longsor itu hanyalah satu dari banyak bukti bahwa alam sudah memberi sinyal kuat namun belum sepenuhnya didengar.Belajar tentang Kemanusiaan yang Lebih LuasDi sinilah nilai kemanusiaan seharusnya berbicara.

Bukan hanya tentang hubungan antar manusia, tetapi juga tentang bagaimana manusia memperlakukan makhluk lain dan lingkungan yang menopang kehidupan semua pihak. Kemanusiaan yang sejati mencakup rasa empati, tanggung jawab, dan kesadaran bahwa hidup tidak hanya tentang mengambil, tetapi juga merawat.Gajah-gajah yang diturunkan ke medan berat itu bukan sekadar tenaga tambahan. Mereka adalah simbol dari apa yang salah dalam hubungan manusia dengan alam. Kita terlalu sering meminta mereka beradaptasi dengan dunia yang kita rusak, alih-alih memperbaiki perilaku kita sendiri.Menghargai kehidupan gajah bukan hanya urusan konservasi, tetapi soal moral.

Soal bagaimana kita menempatkan diri sebagai bagian dari alam, bukan penguasa yang seenaknya. Saatnya Manusia PeduliFoto-foto gajah bekerja setelah bencana memang menyentuh hati. Tapi di balik itu, ada pesan yang jauh lebih penting, beberapa bagian dari pekerjaan itu seharusnya tidak perlu dilakukan jika kita menjaga alam dengan benar.Gajah telah kehilangan banyak. Mereka kehilangan tempat tinggal, makanan, keamanan, dan bahkan anggota kelompok.

Jika setelah semua itu mereka masih harus membantu membersihkan kekacauan manusia, maka ada yang harus diubah.Manusia perlu bekerja lebih keras bukan hanya saat bencana, tetapi sejak sebelum bencana itu terjadi. Menjaga hutan, menghiasinya kembali dengan pohon, melindungi jalur jelajah satwa, dan membangun kehidupan yang berdampingan, bukan saling menekan. Upaya seperti penetapan koridor satwa, perlindungan kawasan hutan tersisa, moratorium pembukaan lahan di wilayah jelajah gajah, serta mitigasi bencana berbasis ekologi harus menjadi agenda nyata, bukan sekadar wacana.Karena pada akhirnya, jika alam terus dirusak, kita bukan hanya merusak rumah gajah.Kita sedang merobohkan rumah kita sendiri.***

Penulis: Ana Hidayah Lestari

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *