OPINI, inspiratifonline.com – Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) lahir sebagai ruang kaderisasi pelajar yang menjunjung nilai keilmuan, keislaman, dan kebangsaan. Dalam sejarahnya, IPNU dirancang sebagai organisasi yang mendidik, membimbing, dan menumbuhkan kepemimpinan pelajar secara bertahap. Namun, dalam praktiknya, IPNU hari ini kerap berada di persimpangan jalan antara pembinaan yang sehat dan budaya senioritas yang berlebihan.

Senior dalam organisasi sejatinya memiliki peran strategis: menjadi teladan, pembimbing, serta penjaga nilai dan arah gerakan. Pengalaman mereka adalah modal sosial yang sangat berharga bagi kader yang lebih muda. Sayangnya, peran ini tidak jarang bergeser menjadi dominasi. Senioritas kemudian tidak lagi dimaknai sebagai tanggung jawab moral, melainkan sebagai alat legitimasi kekuasaan.

Dalam beberapa dinamika organisasi, suara kader muda sering kali dianggap belum matang, kurang pengalaman, atau “belum waktunya bicara”. Alasan-alasan ini terdengar bijak, tetapi jika terus dipakai untuk membungkam gagasan baru, justru akan mematikan daya kritis yang menjadi ruh pelajar. IPNU sebagai organisasi pelajar semestinya menjadi laboratorium berpikir, bukan ruang hierarki yang kaku.

Budaya senioritas yang berlebihan juga berpotensi menciptakan ketergantungan struktural. Kader muda terbiasa “menunggu arahan” daripada berinisiatif. Akibatnya, proses kaderisasi berjalan secara formalitas, bukan transformasi. IPNU lalu kehilangan fungsi strategisnya sebagai pencetak kader intelektual dan pemimpin masa depan Nahdlatul Ulama.

Di sisi lain, perlu diakui bahwa tidak semua kritik terhadap senioritas berdiri di atas kedewasaan. Ada pula kader muda yang tergesa-gesa, minim proses, namun ingin langsung menentukan arah organisasi. Di sinilah pentingnya keseimbangan. Senior tidak boleh alergi terhadap kritik, sementara junior harus memahami etika berorganisasi dan menghargai proses.

IPNU hari ini berada di persimpangan: apakah tetap mempertahankan pola lama yang sentralistik dan bertumpu pada figur senior, atau berani membuka ruang dialog yang setara dan partisipatif. Pilihan kedua tentu lebih sejalan dengan semangat pelajar dan nilai Ahlussunnah wal Jama’ah yang menekankan musyawarah.

Transformasi budaya senioritas bukan berarti menghapus peran senior, melainkan memurnikannya. Senior harus hadir sebagai fasilitator ide, bukan pengendali mutlak. Sementara kader muda harus didorong untuk berpikir kritis, berani berbeda, dan bertanggung jawab atas gagasannya.

Jika IPNU ingin tetap relevan di tengah tantangan zaman, maka keberanian untuk merefleksikan budaya internal adalah keniscayaan. Senioritas yang sehat akan melahirkan kader yang tangguh. Namun senioritas yang menindas hanya akan menjauhkan IPNU dari cita-cita awalnya sebagai rumah besar pelajar NU.

Pada akhirnya, masa depan IPNU tidak ditentukan oleh seberapa kuat senior mengontrol, tetapi seberapa ikhlas mereka menyiapkan generasi penerus untuk melampaui zamannya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *