KENDAL, inspiratifonline.com — Kabupaten Kendal mendapat perhatian khusus dari Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI) menyusul kinerja ekonomi yang dinilai melesat signifikan. Arus investasi yang menembus Rp187,05 triliun menempatkan Kendal sebagai salah satu daerah dengan pertumbuhan ekonomi paling progresif di Jawa Tengah.

Ketua DPD RI, Sultan Bachtiar Najamudin, menilai capaian tersebut bukan sekadar angka, melainkan hasil dari tata kelola pembangunan dan iklim investasi yang sehat. Menurutnya, Kendal memiliki karakter pembangunan ekonomi yang patut direplikasi oleh daerah lain.

“Ada banyak catatan positif dari Kendal. Pertumbuhan ekonominya kuat, IPM meningkat, dan investasinya berpihak pada keberlanjutan lingkungan. Ini yang membuat Kendal layak menjadi role model nasional,” ujar Sultan saat kunjungan kerja di Politeknik Kawasan Industri Kendal (KIK), Senin (26/1/2026).

Ia menekankan, investasi yang berkualitas adalah investasi yang mampu membangun ekosistem ekonomi daerah secara berimbang, bukan sekadar mengejar angka pertumbuhan semata.

“Investasi seperti inilah yang menjadi roda penggerak ekonomi daerah dan berdampak langsung bagi masyarakat,” tambahnya.

Di hadapan rombongan DPD RI, Bupati Kendal Dyah Kartika Permanasari memaparkan bahwa hingga 2025 total nilai investasi yang masuk ke Kendal mencapai Rp187,05 triliun. Dari jumlah tersebut, realisasi investasi oleh para tenant tercatat sebesar Rp95,57 triliun.

Dampak investasi itu juga terlihat pada penyerapan tenaga kerja. Pemerintah daerah mencatat proyeksi serapan tenaga kerja mencapai 76.559 orang, dengan realisasi sementara sebanyak 40.007 tenaga kerja.

“Struktur industri di Kendal saat ini masih didominasi industri kecil sebanyak 28.059 unit. Sementara industri besar berjumlah 178 unit, mayoritas berada di Kawasan Industri Kendal,” jelas Dyah Kartika Permanasari.

Meski demikian, Bupati yang akrab disapa Tika itu tidak menutup mata terhadap tantangan yang dihadapi pelaku Usaha Kecil dan Menengah (UKM). Sejumlah persoalan masih menjadi pekerjaan rumah, mulai dari keterbatasan permodalan, kualitas SDM, manajemen usaha, hingga pemanfaatan teknologi dan digitalisasi yang belum optimal.

“UKM juga menghadapi kendala akses pasar, standar kualitas produk, bahan baku, serta tingginya biaya produksi,” ungkapnya.

Selain itu, tantangan regulasi, rendahnya inovasi, daya saing usaha, hingga dampak dinamika ekonomi global turut mempengaruhi keberlanjutan UKM di daerah.

Untuk menjawab tantangan tersebut, Pemkab Kendal terus menggulirkan berbagai program strategis, di antaranya peningkatan kualitas sumber daya manusia, perluasan akses pembiayaan, percepatan digitalisasi, serta penguatan jejaring dan akses pasar.

“Kami berkomitmen memastikan pertumbuhan investasi sejalan dengan penguatan UKM dan kesejahteraan masyarakat,” pungkasnya.

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *