Opini, Inspiratifonline.com – Ada bentuk kekerasan yang jarang diakui karena tidak meninggalkan bekas fisik dan tidak tercatat dalam statistik resmi: nostalgia laki-laki. Bentuknya muncul sebagai penyesalan, kerinduan, atau kalimat yang terdengar personal—“aku sering teringat kamu”—namun berfungsi sebagai mekanisme penghindaran tanggung jawab. Nostalgia ini sering diucapkan oleh laki-laki yang telah membangun kehidupan baru, bahkan pernikahan baru, tetapi merasa tetap berhak mengakses perempuan masa lalunya.
Dalam moralitas publik Indonesia, tindakan semacam ini kerap dimaklumi. Ia dianggap wajar, manusiawi, bahkan romantis. Padahal, jika dibaca secara kritis, nostalgia tersebut merupakan kekerasan emosional yang dinormalisasi oleh budaya patriarki.
Perempuan sebagai Infrastruktur Emosional
Banyak relasi dibangun dalam kondisi timpang. Perempuan hadir di fase hidup laki-laki yang paling rapuh: saat miskin, gagal, dan hanya memiliki janji. Di fase ini, perempuan tidak sekadar menjadi pasangan, tetapi juga penopang psikologis—mendengar, menguatkan, dan menyaksikan kegagalan tanpa syarat.
Namun ketika mobilitas sosial terjadi—pekerjaan membaik, status naik, dan kehidupan baru dimulai—perempuan tersebut sering ditinggalkan. Bukan karena relasi berakhir secara etis, melainkan karena sudah tidak lagi sesuai dengan citra keberhasilan yang ingin ditampilkan.
Baca juga: GEMAR BKKBN: Peran Ayah dan Tantangan Keluarga Tidak Utuh
Yang problematik, perempuan itu tidak pernah benar-benar dilepaskan. Ia disimpan sebagai cadangan emosional, tempat kembali ketika kehidupan baru terasa hampa. Dalam posisi ini, perempuan direduksi menjadi infrastruktur emosional—berguna, tetapi tidak diakui. Yang dirindukan bukan relasi, melainkan versi diri laki-laki yang dulu diterima tanpa prestasi.
Maskulinitas dan Ketidakmampuan Menutup Cerita
Maskulinitas dominan di Indonesia tidak mengajarkan laki-laki menyelesaikan konflik batin secara etis. Yang diajarkan adalah bergerak maju, membangun status, dan menutup masa lalu dengan pencapaian. Emosi yang tidak selesai tidak diproses, hanya dipendam.
Pernikahan baru kerap dijadikan solusi administratif atas luka lama. Ketika gagal memberi rasa utuh, nostalgia muncul sebagai jalan pintas: murah, rahasia, dan minim risiko sosial. Laki-laki dapat merasa jujur tanpa harus bertanggung jawab. Ini bukan refleksi, tetapi penyangkalan yang dibungkus perasaan.
Kekerasan Afektif yang Terselubung
Yang membuat nostalgia laki-laki berbahaya adalah tuntutan implisit yang menyertainya. Perempuan diminta memahami tanpa menuntut, mendengar tanpa diakui, dan hadir tanpa dipilih. Pujian seperti “yang paling mengerti” atau “tak tergantikan” bukan penghormatan, tetapi mekanisme pembungkaman. Perempuan dibuat merasa istimewa agar tetap tersedia, tetapi tidak pernah ditempatkan sebagai subjek yang berhak atas keputusan jelas.
Ini adalah eksploitasi afektif: perempuan dijadikan peredam krisis maskulinitas agar laki-laki dapat mempertahankan kehidupan barunya tanpa merombak relasi kuasa yang timpang.
Cinta Memerlukan Keberanian dan Risiko
Cinta tidak datang sembunyi-sembunyi. Cinta menuntut pilihan, keberanian, dan risiko. Segala bentuk kerinduan yang hidup di balik kebohongan, tanpa kesediaan menanggung konsekuensi, bukan cinta—melainkan ketakutan kehilangan akses emosional.
Ketakutan ini dibayar mahal oleh perempuan: kebingungan, luka lama yang dibuka kembali, dan posisi menggantung yang tak pernah ia pilih.
Pernikahan sebagai Tameng Moral
Budaya pernikahan di Indonesia perlu dikritik secara terbuka. Pernikahan terlalu sering diperlakukan sebagai sertifikat moral, seolah status “sah” menebus ketidakjujuran emosional. Negara mengesahkan ikatan, masyarakat memberi legitimasi, sementara cara mencapainya—siapa yang ditinggalkan, siapa yang dilukai—dianggap urusan privat.
Moralitas publik rajin mengawasi tubuh, kesetiaan, dan kesabaran perempuan. Namun terhadap laki-laki yang menjalani dua kehidupan—satu legal di depan publik, satu emosional di lorong nostalgia—masyarakat memilih diam. Dalam tatanan ini, pernikahan berfungsi bukan sebagai komitmen etis, melainkan alat pemutihan: status dipakai untuk menghapus jejak luka.
Menarik Diri sebagai Tindakan Politik
Menolak nostalgia laki-laki bukan sikap dingin. Ia adalah tindakan politik personal. Keputusan sadar untuk tidak lagi menyediakan diri sebagai ruang pemulihan gratis bagi konflik batin yang tidak pernah diselesaikan.
Perempuan bukan arsip hidup. Bukan tempat singgah krisis. Dan bukan penebus dosa dari pilihan hidup yang tidak ia buat.
Jika masyarakat terus menyamakan sah dengan benar, dan stabilitas dengan kebisuan perempuan, yang dirawat bukan keluarga, melainkan kebohongan kolektif—kebohongan yang dilindungi adat, agama, dan negara.
Penulis: Emma Wijaya
Editor: Danang Afi
[…] Baca juga: Cinta, Kebohongan, dan Risiko yang Tidak Pernah Dipilih Perempuan […]
Menginspirasi