TEGAL, inspiratifonline.com – Aktivitas wisata di kawasan Guci, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, terhenti total setelah banjir bandang menerjang wilayah tersebut pada Sabtu (20/12/2025) sore.
Peristiwa ini kembali memantik sorotan tajam terhadap kondisi lingkungan di lereng Gunung Slamet yang kian rentan.Banjir bandang dipicu hujan berintensitas tinggi yang mengguyur kawasan hulu Gunung Slamet sejak siang hari.
Debit air meningkat drastis dan membawa material lumpur, batu, serta kayu dari lereng gunung menuju area wisata.Salah satu titik terdampak paling parah berada di objek wisata Pancuran 13.
Aliran air berlumpur meluap ke area pemandian, merusak sejumlah fasilitas vital.
Dalam rekaman video yang beredar di media sosial, derasnya arus terlihat menyeret pipa air panas yang selama ini menjadi bagian utama fasilitas wisata Guci.
Meski belum ada laporan korban jiwa hingga Sabtu sore, kerusakan infrastruktur wisata menimbulkan kekhawatiran serius.
Aparat dan pengelola masih melakukan pendataan dampak serta memantau kondisi cuaca di wilayah hulu.
Di media sosial, peristiwa ini menuai reaksi keras warganet. Sejumlah komentar menyoroti dugaan kerusakan lingkungan di kawasan lereng Gunung Slamet, termasuk aktivitas yang dinilai mengganggu keseimbangan alam.
Warganet mendesak pemerintah dan aparat terkait agar bertindak tegas terhadap pihak-pihak yang diduga menjadi perusak lingkungan.
Banjir bandang di Guci bukan sekadar bencana alam, melainkan alarm keras tentang rapuhnya ekosistem kawasan pegunungan.
Akun Instagram @mikhail.dmk menuliskan komentar bernada kritik tajam terhadap pengelolaan negara dan lingkungan.
“Ya hancurkan terus negara ini demi cuan oligarki!” tulis @mikhail.dmk di kolom komentar.
Sementara itu, akun Instagram @jengheni menyoroti dugaan aktivitas perusakan lingkungan di kawasan sekitar Guci yang dinilai berkontribusi terhadap bencana.
“Lagi dirasanya adanya tambang yang merusak, eh sudah datang saja banjir. Semoga ke depannya bisa menindak tegas perusak alam,” tulis @jengheni.
Komentar-komentar tersebut mencerminkan keresahan publik dan desakan agar pemerintah bertindak tegas dalam menjaga kelestarian lingkungan, khususnya di kawasan lereng Gunung Slamet yang rawan bencana.
Jika peringatan ini terus diabaikan, ancaman bencana serupa dikhawatirkan akan kembali menghantui, bukan hanya wisata, tetapi juga keselamatan masyarakat di sekitarnya.***