Opini, Inspiratifonline.com – Pernahkah kamu merasa bahwa akhir-akhir ini media sosial terasa lebih “ngeri” dari biasanya? Jika kamu membuka aplikasi seperti TikTok, Instagram, atau X (sebelumnya Twitter), muncul konten yang membuat kita merasa kesal, marah, atau benci pada kelompok tertentu.

Kita yang menemukan mungkin mengira itu hanya kebetulan atau sekadar opini orang lewat. Namun, kenyataannya jauh lebih berbahaya: sebagian orang percaya bahwa Indonesia sedang menghadapi serangan “Cyber-Algoritma Media Sosial.”

​Sederhananya, ini bukan sekadar orang berdebat di kolom komentar. Ini adalah bentuk serangan terhadap pikiran kita yang direncanakan secara matang. Tujuannya satu, membuat rakyat Indonesia saling benci satu sama lain, sehingga bangsa ini lemah dari dalam.

​Bagaimana Cara Kerja Serangan Ini?

​Algoritma media sosial dirancang untuk memberikan apa yang kita sukai agar kita betah berlama-lama di sana (FYP: For Youre Page). Namun, teknologi ini sekarang seolah “dipersenjatai”. Polanya tidak lagi acak, atau sesuai dengan apa yang kita sukai melainkan sangat terarah menampilkan SARA (Suku, Agama, Ras, dan Antargolongan).

​Mari kita lihat apa yang terjadi belakangan ini. Muncul narasi-narasi yang kembali mengangkat isu kemerdekaan di Aceh, lalu ada konten yang sengaja membenturkan identitas suku Sunda, Madura, dan Jawa, hingga memanaskan suasana antara penduduk asli Bali dengan para pendatang.

​Ini bukan perkembangan sosial yang alami. Ini adalah perang hibrida. Di zaman dulu, jika sebuah negara ingin menjatuhkan negara lain, mereka harus mengirim tentara dan tank. Sekarang, mereka cukup mengirim “konten” ke ponsel kamu.

Jika ribuan orang melihat konten yang memecah belah setiap hari, lama-kelamaan persaudaraan kita akan luntur. Lalu, berganti menjadi rasa curiga.

​Belajar dari Kehancuran Negara Lain

​Sejarah adalah guru terbaik. Kita tidak boleh sombong dan merasa Indonesia akan aman selamanya.

Banyak negara yang tadinya damai, menjadi porak-poranda, karena masyarakatnya diadu domba lewat algoritma digital dan isu identitas.

​1. Kasus Libya (Arab Spring)

​Libya dahulu adalah salah satu negara terkaya di Afrika dengan fasilitas kesehatan dan pendidikan gratis.

Namun, melalui media sosial, narasi kebencian terhadap pemerintah dan antar-kelompok disebarkan secara masif. Algoritma membantu pesan-pesan provokatif menyebar lebih cepat daripada pesan perdamaian.

Hasilnya, Negara tersebut pecah dalam perang saudara berkepanjangan. Hingga hari ini, Libya kesulitan untuk bersatu kembali, ekonominya hancur, dan kekayaan minyaknya justru dikelola atau dipengaruhi oleh kepentingan asing.

​2. Kasus Myanmar (Isu Rohingya)

​Ini adalah contoh nyata bagaimana algoritma media sosial menaikan konten kebencian. Pesan-pesan yang menghasut kemarahan satu kelompok terhadap kelompok lain disebarkan secara sistematis oleh akun-akun tertentu.

​Hasilnya, Terjadi konflik kemanusiaan yang sangat hebat, kekerasan fisik di lapangan, dan sanksi internasional yang membuat posisi negara tersebut semakin sulit secara ekonomi dan politik.

​3. Kasus Suriah

​Suriah adalah contoh paling tragis. Melalui infiltrasi digital, masyarakatnya dibelah berdasarkan garis agama dan kelompok. Media sosial digunakan untuk menyebarkan berita bohong (hoaks), yang memicu emosi massa.

​Hasilnya: Suriah carut marut. Jutaan rakyatnya menjadi pengungsi di negeri orang, infrastruktur rata dengan tanah, dan negara tersebut kehilangan kedaulatannya karena menjadi “lapangan bermain” bagi kekuatan militer negara-negara besar.

​Mengapa Pihak Asing Mengincar Indonesia?

​Pertanyaannya, kenapa Indonesia diserang dengan cara ini? Jawabannya sederhana: Indonesia terlalu kaya dan terlalu besar untuk dikalahkan dengan senjata.

​Indonesia memiliki sumber daya alam yang luar biasa, mulai dari nikel, emas, hingga lokasi geografis yang sangat strategis.

Jika rakyat Indonesia bersatu, kita sulit dikendalikan. Namun, jika kita sibuk berkelahi antar-suku atau antar-agama, kita akan menjadi lemah.

​Saat kita saling menghancurkan di dalam negeri, pihak asing bisa masuk dengan sangat mudah. Mereka bisa menguasai ekonomi kita, mengambil sumber daya alam kita dengan harga murah, atau mendikte kebijakan politik kita.

Mereka menang tanpa perlu mengeluarkan satu peluru pun, karena kita sudah “menembak” saudara kita sendiri lewat kata-kata di media sosial.

​Persatuan Benteng Utama Indonesia

​Kita harus sadar bahwa setiap kali kita membagikan (share) konten yang merendahkan suku lain, menghina agama lain, atau memprovokasi perpecahan, kita sedang membantu “musuh” meruntuhkan rumah kita sendiri.

​Kewaspadaan nasional bukan lagi tugas tentara atau polisi saja, tapi tugas setiap orang yang memegang ponsel.

Kita harus menjadi pemilih konten yang cerdas. Jangan mudah terpancing emosi hanya karena sebuah video pendek berdurasi 15 detik yang belum tentu benar.

​Kita harus ingat, Persatuan adalah benteng utama kita. Tanpa persatuan, Indonesia hanyalah kumpulan pulau yang mudah dicaplok.

Dengan persatuan, Indonesia adalah kekuatan dunia yang tidak bisa digoyahkan. Jangan biarkan algoritma yang mengatur hati kita, tapi biarkan nilai-nilai luhur bangsa yang menjaga langkah kita.

 

2 thoughts on “Ancaman Tersembunyi “Cyber Algorithma” pada Negeri Ini”
  1. […] Baca Juga: Ancaman Tersembunyi “Cyber Algorithma” pada Negeri IniRefleksi bagi Demokrasi GlobalGelombang demonstrasi yang menuntut pertanggungjawaban politik di Amerika Serikat bukan semata urusan domestik. Ia menjadi penanda bahwa kepemimpinan global yang bertumpu pada standar ganda semakin kehilangan legitimasi.Jika Amerika Serikat ingin kembali dihormati sebagai rujukan demokrasi, maka konsistensi menjadi syarat utama. Hak asasi manusia tidak bisa diperlakukan sebagai pilihan selektif, diambil ketika menguntungkan dan diabaikan ketika merepotkan.Dunia tidak membutuhkan khotbah moral, melainkan keteladanan. Selama hukum internasional diperlakukan secara tidak setara dan prinsip HAM diterapkan secara situasional, maka seruan demokrasi dari Washington akan terdengar hampa. Demonstrasi di Washington hari ini, pada akhirnya, bukan hanya kritik terhadap seorang presiden, melainkan refleksi atas problem struktural yang telah lama mengendap dalam praktik kekuasaan Amerika Serikat. […]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *