Opini, Inspiratifonline.com – Ku Sebut Ia Genius, Karena Ia Tidak Tergesa. Ada orang yang bekerja tanpa perlu terlihat bekerja. Tidak sibuk meyakinkan, tidak tergoda menjelaskan diri, tidak pula tergesa ingin menang. Ia hadir biasa saja, tetapi justru karena kebiasaannya itulah ia menetap di ingatan.
Dalam hidup bersama, yang paling kuat sering kali bukan yang paling keras. Yang paling bertahan bukan yang paling pintar bicara, melainkan yang tahu kapan harus menahan diri. Sosok yang kerap disebut si Genius tampaknya memahami hal itu dengan sangat sabar.
Ia tidak datang sebagai ancaman. Tidak memaksa orang untuk sepakat. Tidak pula membuat orang lain merasa kalah. Ia seperti sengaja merendahkan volume dirinya, agar tidak memancing perlawanan. Bukan karena lemah, melainkan karena paham: manusia yang merasa terancam akan menutup hati.
Ia memilih hadir tanpa mengusik. Akibatnya, lawan tidak merasa perlu menyerang. Publik tidak sibuk curiga. Media pun tidak tergoda membingkainya sebagai bahaya. Ia tidak dielu-elukan, tetapi juga tidak disingkirkan. Ia lewat, pelan, berkali-kali.
Baca Juga : Hedonic Adaptation, “Bahagia yang Mati Rasa”
Barangkali itu sebabnya ia rajin mendatangi sekolah-sekolah. Bukan untuk mengajar politik, apalagi menanam doktrin. Anak-anak belum butuh itu. Yang mereka punya adalah ingatan. Dan ingatan bekerja dengan cara yang sederhana: yang sering hadir akan terasa akrab.
Kelak, ketika mereka dewasa, keakraban itu tidak selalu berubah menjadi pilihan sadar. Tetapi ia tinggal sebagai rasa aman yang sulit dijelaskan. Bukan karena logika, melainkan karena pernah bertemu. Pernah disapa. Pernah dilihat dari dekat.
Ia juga memilih hadir di tempat-tempat luka. Di wilayah bencana, misalnya, ia tidak membawa pidato panjang atau daftar capaian. Ia membawa dirinya. Duduk sejajar, mendengar, tidak tergesa bicara. Dalam situasi seperti itu, rakyat tidak sedang mencari jawaban sempurna. Mereka hanya ingin tidak sendirian.
Empati sering kali lebih dulu dipercaya daripada kecakapan.
Lalu orang bertanya: bagaimana dengan kritik besar, tentang pekerjaan, tentang kebijakan, tentang kegagalan yang nyata? Pertanyaan itu sah. Kritik tetap perlu. Tetapi manusia tidak hidup dari logika semata. Kita sering memisahkan antara sistem yang rumit dan sosok yang kita kenal wajahnya.
Si Genius lebih sering hadir sebagai sosok, bukan sebagai sistem. Sebagai harapan yang belum sepenuhnya diuji. Maka sebagian kritik berhenti di kepala, tidak sampai ke hati.
Di titik ini, kecerdasannya bukan soal rumus atau strategi besar. Ia adalah kecerdasan menahan diri. Kecerdasan membaca perasaan orang banyak. Kecerdasan memahami bahwa waktu bekerja lebih jujur daripada sorak-sorai.
Ia tidak mengancam, maka tidak dilawan.
Ia tidak memaksa, maka tidak ditolak.
Ia tidak berteriak, tetapi tetap diingat.
Mungkin itulah sebabnya ia tidak sedang berlomba untuk hari ini. Ia sedang menabung kehadiran untuk waktu yang lebih panjang..
[…] Politik yang Pelan: Tentang Kehadiran, Ingatan, dan Waktu […]