(dok. KBM App)

Lifestyle, Inspiratifonline.com – Cerita horor memiliki tempat tersendiri di tengah pembaca Indonesia. Hal itu tercermin dari sambutan terhadap novel Tumbal Pitung Dino karya Bangrey, yang telah dibaca puluhan ribu pembaca di platform KBM App dan meraih penghargaan Karya Terbaik Kompetisi Literasi Indonesia (KLI) Season 3.

Namun, daya tarik novel ini tidak semata terletak pada label populer atau penghargaan yang diraihnya. Tumbal Pitung Dino menawarkan horor yang bekerja perlahan, menempel di ingatan, dan memancing rasa penasaran pembaca untuk terus melanjutkan halaman demi halaman, meski sejak awal disadarkan bahwa sesuatu yang mengerikan sedang menunggu.

Sejak pembuka, Bangrey langsung menyeret pembaca ke dalam situasi krisis: sebuah rumah terbakar di desa pinggir hutan, jeritan minta tolong dari balik api, serta warga yang berusaha memadamkan kobaran dengan kegelisahan yang nyata. Tidak ada pengantar panjang atau penjelasan bertele-tele. Cerita dibuka tepat di pusat kekacauan, sebuah pilihan yang efektif untuk segera membangun ketegangan.

Bab awal ini menampilkan kekuatan utama novel, yakni atmosfer yang padat dan hidup. Desa Mbangmayit tidak sekadar hadir sebagai latar, melainkan sebagai entitas sosial yang bernapas. Sosok sesepuh desa, warga dengan sikap ambigu, tradisi yang dijalankan, hingga suara radio gamelan yang menyala di tengah malam, semuanya membentuk suasana yang sejak awal terasa ganjil.

Horor yang Tumbuh dari Sunyi: Misteri Desa Mati

Api memang membakar rumah Sukma, tetapi yang sesungguhnya membara adalah ketegangan kolektif yang tak terucap. Ada sesuatu yang disembunyikan, dan pembaca dapat merasakannya jauh sebelum cerita mengungkapkannya secara eksplisit.

Tokoh Mbah Mangun menjadi pusat gravitasi moral dalam cerita. Ia bukan sekadar sesepuh desa, melainkan penjaga keseimbangan sekaligus simbol dari rahasia yang telah mengendap lama. Keputusannya menahan Ngadiman, yang berusaha menyelamatkan Sukma, tampak kejam di permukaan. Namun justru di situlah horor bekerja: pembaca dipaksa bertanya mengapa sosok yang dianggap paling bijak justru melarang tindakan penyelamatan.

Lompatan waktu sepuluh tahun kemudian memperkuat kesan bahwa tragedi tersebut tidak pernah benar-benar berakhir. Kehadiran Robi dan Rara sebagai mahasiswa KKN menjadi sudut pandang yang efektif. Mereka berfungsi sebagai mata pembaca: datang sebagai orang luar, penuh rasa ingin tahu, dan sama sekali tidak memahami sejarah kelam desa itu.

Melalui dialog sederhana tentang Sukma yang “tak pernah ditemukan jasadnya”, misteri lama kembali mengemuka dengan lapisan keganjilan baru. Sosok Ngadiman yang kini hadir sebagai pria lusuh, penuh amarah, menegaskan bahwa masa lalu tidak hanya menghantui ruang dan tempat, tetapi juga manusia.

Keunggulan Tumbal Pitung Dino tidak hanya terletak pada unsur ketakutannya, melainkan pada cara horor tersebut berakar pada relasi manusia dan tradisi. Tema tumbal tidak dihadirkan sebagai sensasi semata, melainkan sebagai luka sosial: tentang siapa yang dikorbankan, siapa yang selamat, dan siapa yang harus menanggung rasa bersalah sepanjang hidupnya.

Rumah yang Terlalu Besar untuk Diteriaki

Bangrey tidak menjelaskan segalanya secara gamblang. Ia membiarkan pembaca menyusun sendiri kepingan cerita, dan justru di situlah ketegangan bekerja paling efektif.

Bagi pembaca yang mencari horor lokal dengan atmosfer kuat, kedalaman makna, dan cerita yang bertahan lama di ingatan, Tumbal Pitung Dino layak menjadi pilihan bacaan. Novel ini tidak hanya menawarkan rasa takut, tetapi juga mengajak pembaca merenungkan harga yang harus dibayar sebuah komunitas demi menjaga rahasia masa lalunya.

2 thoughts on “Horor yang Bertahan Sepuluh Tahun: Review Tumbal Pitung Dino”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *